Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Pagi

Menakar air di perempatan jalan. Aku mendapati subuh, panggilan Mu yang mendawai di telinga ku. Menggetarkan rongga kulit ari. Menyayat pilu memangku laku. Meredam tubi mau dan mau. Mendidih darah menghangatkan karsa. Yogyakarta 20102014

Bukan dia

Terkekeh. Satu kata yang tepat untuk mewakili semua rasa yang telah bercampur seenaknya tanpa kejelasan nama adonan. Berarti bukan itu yang terbaik bagi ku. Berarti dia bukan yang terbaik untuk ku. Berarti bukan dia yang sesuai dengan ku. Berarti bukan dia yang Dia maksud. Berarti kurang lebih bukan orang sepertinya. Berarti dia tidak pas dengan ku. Berarti semua sikap dia yang ku tangkap sebagai upaya tidak sinkron dengan respon ku. Kemudian satu hal yang sempat terlintas di benakku dalam hitungan detik tahun lalu, sungguh-sungguh terjadi sekarang. Tidak ada satu manusia pun yang mampu mengelak, menghalangi bahkan melawan. Tidak ada.

Pudar

membidik kesungguhan yang mulai memudar berbicara dengan kalian adalah istimewa membuat aku sampai tak henti meraung-raung bertanya-tanya tentang apa itu pencapaian. proses selalu berjalan sesuai koridornya, sebab ia adalah waktu yang tak bisa didebat. namun terkadang manusia terlalu tangguh menyusun benteng pertahanan hingga semuanya luruh satu persatu, termasuk harapan. Semula ia bermukim di ruang-ruang apik. Berfentilasi, berpintu dan berjendela.

Oleh Jarak

Kurang lebih sama dengan rindu. Kita akan tau apa itu rindu ketika kita dan mereka sudah terpisah oleh jarak. Mengakui keberadaan mereka dalam ketiadaan. Memahami makna pesan yang disampaikan oleh ketiadaan. Mengerti kasih yang disampaikan dalam ketiadaan. Mengerti apa itu rindu dalam ketiadaan. Semua berkat jarak. Jarak yang bertubi-tubi menghantamkan
Berpapasan dengan kesejukan yang ditawarkan November. Menangkap sinyal-sinyal kecocokan. Perlu ketangkasan untuk membaca energi diri sekaligus sekeliling badan. Agar tidak terjerembab di lubang yang sama.
Ketulian. Berhasil membuat mata menjadi fasih membaca situasi. Menerka-nerka kelebat mata menyorot tajam memaki atau sekadar menyapa. Anak-anak kecil berjingkrak girang belum tau apa itu hitam dan putih. Laki-laki berbaju biru lahap mengunyah mie instan dua gelas, menyeruput kuah panas aroma bawang. Bapak tua bercelana panjang melepas sandal kanannya, nyenyak bertopang dagu. Nenek khusyuk dalam sujud perjalannya. Perempuan berkerudung biru mengangkat kaki melepas lelah tungkai kakinya.

Jalanan Terjal

Sabtu siang tadi seperti mimpi. Menceritakan semua yang terjadi pada tahun 2011 silam, yang membuat kepala hampir botak dan berat badan menurun drastis. Tidak perlu kiranya berteriak mengumumkan keadaan tahun itu. Suara lantang sekaligus meminta-minta pertolongan pada manusia tidak merubah keadaan saat itu menjadi lebih baik. Hingga akhirnya perlahan semua surut. Mereda dengan sendirinya. Dan pada tahun ini, hari Sabtu 1 November 2014 semua memori yang terekam dapat ternarasikan di hadapan orang lain yang jelas bukan siapa-siapa. Urusan ini tidak lebih dari seorang yang membutuhkan wacana, kemudian aku menyampaikan dengan bercerita sebagaimana wajarnya orang lain yang baik-baik saja, tidak baru mengalami hal-hal yang mengguncang. Selesai. Semua dapat aku ceritakan sampai selesai. Tidak peduli teori apa melandasi. Namun yang aku tau pasti, kemungkinan besar aku sudah cukup pulih. Terbukti dari kemampuan ku menceritakan semua itu di hadapan orang lain yang jelas bukan siapa-siapa. Hanya ...

Darah Ini

cahaya. lampu sorot berpendar kendang saron gong piano drum suling penari penyanyi bunyi. berderu dalam kesatuan, tumpah. menyatu hingga panggung tunduk, megah. menyihir ratusan pasang mata, nganga. lancang mengoyak kuduk tengkuk sampai ketiak, rantak. merogoh jantung punya letak, detak. mendikte penangkapan daun telinga, meraup. telapak tangan dan telapak kaki tak bergumam mereka tunduk pada intruksi rasa tamparan ini tamparan menyodok rusuk rusuk berdaging tipis membuat nganga bertahan lama oleh sembilu ngilu ternyata ini ternyata riuh bunyi yang kau suka kebebasan yang kau kejar kebebasan yang kau minta kebebasan yang kau mau kebebasan yang kau rindu kebebasan yang kau peluk kebebasan yang kau sanding kau pernah mengatakan pada ku bahwa kau bebas dalam kebebasan yang bebas kau bergerak dalam irama kau bernafas dalam aroma nada sampai kini aku menyatakan lepas dari mu, dari mu namun ternyata tidak demikian oleh mu sebab darah mu a...

Pada Kedalaman Makna

Terjepit. Satu kata yang cukup untuk menjadi wakil, menjelentrehkan kondisi sulit ketika menatap kanan dan kiri. Bergeser pun sepertinya akan terjerembap, apalagi diam di tempat. Justru akan menambah sayatan-sayatan baru. Akhirnya?, luka lama bernanah dan memuntahkan kelengketan-kelengketan legit pasi. Sudah bukan lagi darah. Bukan. Obat-obat oles yang hanya menjanjikan di permukaan pun malah sekonyong-konyong menambah cairan lengket semakin tumpah. Kasa pembalut sia-sia merobekkan diri demi perjanjian-perjanjian nista. Cairan lengket masih meluap. Terhuyung adalah kegetiran tersebab cairan di dalam tidak bersisa. Hanya mampu merangkak, menapak telapak tangan, meraba tembok-tembok gogrok, menyudut pada sudut kecut aroma nafas. Tidak ada anak-anak panah bertunjuk arah seperti milik tembok yang lain. Tersudut mutlak tanpa elak. Melepas kasa terserak, memeras kelengketan-kelengketan jinak, menjahit sayatan-sayatan nganga. Meneriakkan nyeri dalam ketulian dan kebutaan. Terhuyung bukan perm...

Protes dan Proses

Sekarang kalian protes; karna memang itu yang kalian bisa untuk saat ini. Nanti sekitar lima, tujuh, atau beberapa puluh taun mendatang kalian akan terkekeh; menertawakan saat ini dan mengangguk-angguk pertanda paham. Iya, besok.. bukan sekarang. Itu merupakan catatan pribadi yang kini menjadi kesimpulan saya tentang hakikat sebuah proses. Perubahan dan pergantian yang menjadi keniscayaan tersendiri. Iya, justru saya sempat mengiyakan pendapat teman saya tentang perubahan. Ia mengatakan bahwa "perubahan itu adalah keniscayaan yang abadi". Terlalu banyak faktor yang dapat menjadi sebab musabab suatu perubahan pada diri seseorang. Apabila diperhatikan berdasarkan asal pengaruhnya, ada faktor internal dan juga eksternal. Kedua hal ini berlainan namun sangat mempengaruhi pada prosesnya. Oleh karena hal-hal eksternal lah semua hal yang ada pada diri individu dapat berubah pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini kita bicara soal siswa. Ia merupakan seorang anak yang memiliki kewa...

Bisikan Maut

kelakar mu tidak lucu, wahai bapak pemilik kursi singgasana aku yakin telinga mu masih berfungsi. Mereka berdecak di luar sana. Apakah kau betul-betul tidak mendengarnya, Pak? aku yakin nyata-nyata mata mu masih berfungsi. Mereka pucat pasi di luar sana. Apakah perlu kau lepas daun pintu mu agar betul-betul nampak oleh mu warna pakaian mereka? Baiklah... kemari sebentar lalu akan aku bantu kau dengan sedikit berbisik saja agar mereka tidak tau bahwa kau betul-betul membutuhkan bantuan. Iya, kau. kau yang membutuhkan bantuan kan? Bukan mereka. Justru kau. kau membutuhkan bantuan senyata-nyatanya agar kau lebih mampu mendengar dan melihat. tidak terlampau nyenyak pada sandaran mu di kursi mu, Pak. 13 Oktober 2014

Judul Urusan Nanti

Setidaknya aku mengenal Tuhan ku dengan cara ini. Bahwa pergumulan ini bukan hanya bicara tentang aku dan Kau. Lebih daripada itu, ini tempatnya aku menjadi keranjingan; terbata mengeja aksara-aksara megah Elok rupawan yang menukilkan Syahdu suara para cendekia. Ini bukan menyoal aku dan Kau sahaja Ini urusan bumi dan seisinya Jagad raya kaya persimpangan Mereka melambai-lambai, meminta aku membudak padanya Ramai nuansa dunia. Lalu aku mulai mengenal Kau dan mereka dengan cara ini. Bahwa pergumulan ini bukan hanya bicara tentang aku dan Kau. Di sini tempat aku mengerti bahwa; para Cendekia ialah bidak serupa Laskar Tak untuk membudak pada nuansa dunia. Bersepakat menjaga; urusan bumi dan seisinya. Yogyakarta, 8 Oktober 2014 Ditulis dalam rangka menyambut Milad Muhammadiyah ke- 105 H/ 102 M. Selamat untuk persyarikatan. Salam hebat untuk para pionir serta penerus di dalamnya. Sukses Musyawarah Nasional IV Keluarga Alumni Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (KAMA...

Hubungan

Satu tangkai bunga hidup di dalam vas. Memang tugasnya menjadi penghias meja dalam ruangan. Hal ini diisepakati secara sepihak oleh para pembeli. Kesempatan bertemu dan merawatnya hanya terjadi satu siklus saja, tidak lebih. Ada masanya ia akan mati kemudian meninggalkan keinginan si pemilik. Lalu bagaimana dengan aku dan kamu yang telah saling sepakat untuk berteman?. Ketika kita telah satu suara namun tidak demikian dengan waktu?. Tentang kesempatan... ternyata sama saja hanya terjadi satu siklus saja. Tinggal bagaimana aku dan kamu menjalaninya.

Kesakitan Pancasila

Pertunjukan istimewa. Tempat dimana aku dapat melihat para penilai asyik mempertanyakan hal-hal yang bohong. Bukan kejujuran. Padahal ini tempatnya belajar tentang ilmu yang mengajarkan tentang Tuhan, tentang manusia, tentang negara bersatu, tentang masyarakat bijak, tentang keadilan bagi warga negara. Namun lagi-lagi tercengang dalam pertunjukan istimewa. Para penilai maklum kebohongan Pembohong elok merupa reka. Memahat gumpalan-gumpalan lugu menjadi nafik. Tidak perlu bertuhan. Tidak perlu bermartabat. Tidak perlu menyoal satu. Tidak perlu menuding milik. Tidak perlu menoreh adil. Pertunjukan istimewa masih berlangsung. 24 Sep- 01 Okt 14

Lembaran Usang

Ketika di hadapan lembaran album rupa lalu aku hanya bisa menggigil seolah dicekik aku menjadi terpekik berhadapan dengan ruas ruas buku lalu itu bukan hal mudah namun waktu tidak berkenan negoisasi sebab pagi tidak akan dikatakan pagi jika tanpa cahaya matahari gagah menggeser rembulan meski ayam jantan berkokok garau waktu tetap tidak memberi toleransi ia tetap meminta ku berjalan-jalan tidak pula sempat menanyakan apakah aku berkenan mendaki puncak atau  menuruni terjal atau sekedar memiliki setapak hingga akhirnya tetap saja aku menemui mu ruas-ruas buku lalu ada beberapa catatan tak rapi namun itu adalah kejujuran mahal  hanya dengannya semua menjadi ada

What this could mean?

Anda yang di sana bagaimana kabar? Apakah Anda tau bahwa beberapa hari yang lalu anda muncul lagi dalam mimpi saya pada malam menjelang pagi hari. Sebenarnya Anda itu siapa? apakah Anda memiliki maksud baik terhadap saya atau sebaliknya?. Mengapa anda tidak bosan untuk singgah dalam mimpi tidur saya di sini?. Dulu ketika bertemu, tidak jarang Anda mengajak saya untuk sedikit terlibat dalam diskusi-diskusi yang melatih untuk bersilat lidah. Tidak jarang juga justru saya yang berdebat dengan Anda. Anda itu siapa. Siapa yang saya pertanyakan di sini bukan menyoal nama. Saya tidak mempertanyakan nama karena kita sudah saling mengetahui nama kita masing-masing. Saya sekedar mempertanyakan apa hubungannya Anda dengan saya sementara ketika bertemu saja tidak jarang kita saling "hantam". Saya harus bertanya kepada siapa lagi jika dengan Anda saja saya sudah jarang bertemu. Ketika saya tanyakan kepada Tuhan sekalipun, jawaban secara gamblang tidak pula saya peroleh. Yang ada justru An...

Palsu

Kertas, mana kertas? kertas jujur sedang porak mereka menuntut "ada"! kemudian kalian mencari yang hilang Kertas, mana kertas? kertas jujur menjadi naif mereka menuntut "ada"! kemudian kalian membuat rupa ada Kertas, mana kertas? kertas jujur tersalah mereka menuntut "ada"! kemudian kalian menyusun apik sisik tak Kertas, mana kertas? kertas jujur ronta mereka menuntut "ada"! kemudian kalian memoles noda tak Kertas, mana kertas? kertas jujur atrisi mereka menuntut "ada"! kemudian kalian sigap menyimpul mati kertas-kertas tak bicara diperbuat tangan, tangan dipaksa demi katanya katanya katanya kertas-kertas sudah berbohong diruah nafsu, insan terjerat demi nilai nilai nilai aturan tak berwibawa sanksi tanpa pelita martabat tak berpenghuni kalian tertabrak, nyenyak diraup gelap sunyi. kertas-kertas jujur, tiada habis diserbu nafsu insan hendak predikat betul bukan untuk di hadapan Mu. ter...

Sejuk

Ini yang aku tunggu dan aku rindu. Aku kembali berteduh di sini, di nuansa sesejuk ini. Sepertinya pagi ini cukup berpihak pada ku. Alunan melodi menemani ketukan jemari ku di sini, iya di sini; di atas keyboard ini. Rasanya sudah lama sekali aku menanti saat seperti ini. Andai saja sepanjang hari dan setiap waktu aku memiliki ini. Menggenggam masa seteduh ini. Namun sayang, aku tidak bisa hidup sendiri. aku tetap akan diangkat oleh sekitar empat atau enam orang ketika mati nanti. Aku tidak mungkin berjalan sendirian menuju tempat peristirahatan terakhir ku.

Anak dan Siswa

Anak itu hasil pendidikan orangtua di rumah. Output olahan tangan-tangan kedua orangtua. Lahan yang pertama dipijak oleh anak ialah lahan rumah kedua orangtuanya baru kemudian lahan sekolah. Bertemu anak-anak selama tujuh jam di sekolah dengan beberapa tuntutan administrasi, penyampaian bahan ajar, transfer of knowledge , mengajak mereka berfikir bersama dengan bahasa komunikatif dan edukatif serta mengingatkan beberapa hal moril bukan suatu hal yang mudah dan instan. Ingat; tujuh jam saja. Itu adalah orientasi fantastis ketika beberapa indikator yang ada dalam Satuan Layanan oleh Guru BK dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) oleh guru mata pelajaran, yang notabene memiliki bahasa yang abot , dapat tercapai 50% dalam sehari. Iya, 50% saja. Selamat bagi Anda yang telah mencapai fase tersebut. Itu artinya Anda juga sanggup membagi informasi praktis kepada teman sejawat, sesama orang-orang yang komit terhadap dunia pendidikan; berurusan dengan perkembangan yang "hidup". Ada be...

Selamat dalam Selamat

Kini kau menambah jumlah deret istilah Selamat Terlalu banyak narasi yang kau dan aku miliki tempo lalu Iya, saat kita masih memiliki kebiasaan memanggil-manggil Sang Guru kau sudah tidak sungkan memilih satu di antara sekian dan sekian Selamat berjalan di atas perahu Di atas perahu pilihan mu untuk berlayar Berlayar tanpa samar Jangan pula memudar Sebab jika itu terjadi, apa daya keindahan Bedugul tatkala memancar? Kini kau telah menambah deret ucapan Selamat Selamat menempuh kehidupan baru di tempat berbeda, sayang... perjalanan Kebumen- Jogja 15082014

Rindu dalam Tulus

Hanya beberapa menit lalu aku masih sanggup membaca pesan singkat dari Sanur yang tak menau waktu asik bermain kata yang ku kira canda ternyata tulus tak sejujur namanya Ia asik menindik pesona tak serupa namanya hingga kau takut tulus tiada ketika hari menjadi sebab Terimakasih untuk rindu dan tulus Tidak perlu kau melempar makna Sebetulnya kita sudah bicara 15082014

Perjalanan

Tuan-tuan bertahta, saya mohon permisi Tuan, adakah tempat yang boleh saya duduki? Tempat saya menghela Tuan-tuan tampan, saya mohon permisi Tuan, bisakah saya melihat? Melihat-lihat sederet elok yang terpahat Tuan-tuan berbahagia, saya mohon permisi Tuan, bisakah saya bicara? Bicara sebentar saja tentang kita dan mereka di luar sana Rupa-rupa Anda yang sedang berbahagia Tuan-tuan bermukim di tempat rasa yang jelas-jelas berbeda antara saya dengan Anda Bagaimana dengan permohonan saya ini? Sebentar saja, di serambi sana. 13082014 rev 200814

Tertunda, bukan Batal

Slamat Pagi empat Agustus.  Berani meletakkan harapan, berarti siap menghadapi kelanjutan dari harapan. Sedangkan mimpi; itu hanya milik orang tidur. Orang tidur itu tidak terpejam untuk selamanya. Ia akan membuka mata kemudian tersadar. Lalu.. plaash!; semuanya berbeda. Selanjutnya akan ada dua kemungkinan riuh yang menyambut; tepuk tangan atau suara ter-isak. Terimakasih keinginan.

Rindu

Rindu kali ini ada hubungannya dengan puisi dan prosa. Teringat saat itu. Iya, saat malam minggu. Aku berhasil menumpahkan soda-soda yang membusa menjadi-jadi. Kini aku merindunya. Aku benar-benar merindu luapan-luapan soda yang muntah itu. Memuntah sejadi-jadinya. Muntahan yang luar biasa indah dan nikmat.

Sajak

Lama tidak ke sini tempat aku bernyanyi tempat aku menari tempat aku berlari terlihat tidak tempat aku melompat tempat aku santun menghujat kata; kau adalah elok rupa dalam tak ada 17072014

Yang Digugu dan Ditiru

wajah-wajah teladan mengumpulkan pesan untuk disajikan pada setiap pagi di sepanjang halaman mendulang perkara boleh dan tidak boleh mencatat cerita tentang makna terkandung meski tak hendak, ia tetap berbuat Hari esok, lusa dan beberapa taun mendatang. Lupa tentang nominal, ia tetap berbuat Itu yang membedakan antara ia dan buruh 21062014, rev 2307

Sambutan Hangat

iya, aku akan begini begitu kata mulai mengharu biru meledak dalam ruang tersembunyi kemudian sraaak; ia meminta ia meminta seperti ini seperti ini, aku akan begini mengambil satu bungkus kopi susu instan meletakkan satu cangkir kering bersih membuka kemasan, menuangkan bubuk kopi ke cangkir menuangkan air panas sejadi-jadinya mengaduk sebagaimana menginginkan rasa iya, aku akan begini menyambut gempita pekat yang merekah mempersilakan berkunjung di tempat muka karna untuk menjemputnya adalah makna menyeduhnya sesegera mungkin sebelum uap panas menetesi; mengubah rasa 20062014

meletup-letup

bait ini belum sampai pada ujung penghujung yang tak berujung namun apa daya melompat-lompat saja hendaknya berpaling pada yang lain sehingga terbentuk susunan rasa terbaru melompat ke sini adalah menuruti rasa lalu ku karsa demi muara karya 20062014
aku menemukan mu membujur kaku dalam bisu padahal kau tau betul apa beda bukankah aku sudah mengatakan bahwa esok pagi belum tentu seindah sekarang iya, sekarang seperti saat ini ketika aku mendapati mu kaku membujur berujar tak kemudian kau bertanya tentang bagaimana menganggap aku adalah si empunya cerita kemari, segera kemari 20,21 06

Perempuan di Persimpangan

Perempuan berwajah pasi Tidak perlu menabuh genderang Bila ternyata tangan mu terluka Meski parau, kau tetap membiru Perempuan berwajah pasi Berjalanlah sebagaimana kaki sedia Bila ternyata terhuyung Kau masih mampu berbenah Perempuan berwajah pasi Duduklah layaknya istirahat Bila ternyata kau gelisah Meski gundah, kau masih berpunya nikmat Perempuan berwajah pasi Bernafaslah seumpama esok tiada Itu adalah rupa semacam bahagia Tamansiswa, 17062014

Jujur pada Jemari

Berlarilah selagi bisa. Genggamlah ketika waktu memberi aba-aba. Kemudian, buka jemari itu. Pandangi lama-lamat keindahan nan agung tak terdefinisi oleh kata. Tekstur menyoal rasa. Hembuskan nafas dengan teratur agar Apa yang dipandang adalah benar tak terganggu. Tak terjatuh. Tak terjerembab. Tak berceceran. Dengarkan nyanyian merdu yang ia dendangkan; nikmati! Setidaknya itulah keberadaan yang tiada. Ia meminta bukan menyita. Tugas; memberi tak tersiksa 29052014
slamat datang di terminal mencari kendaraan sedia antar slamat datang di tempat peristirahat singgah barang sejenak slamat melanjutkan perjalanan kedamaian ini tak terdefinisi oleh nominal mu berkawan dalu melupa lalu 08052014

Suara

Aku menyimak; ruas-ruas buku catatan terkapar Membuka oleh jemari mu Aku menyimak; dengungan pita suara mu mengibas Aku menyimak; tangan gemerincing mengacak hening Aku menyimak; bicara mu Aku menyimak gelisah mu Aku menyimak mata bersorot Aku menyimak nafas dipendar bingar Aku menyimak prasangka mu Aku menyimak perkara kesal mu Karna kau bersedia disimak hanya untuk satu topik: Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit 03052014

KAMU

aku menyapa mu malam ini; "Bagaimana kabar?." aku menyebutkan nama mu pada malam ke sekian aku memutar kembali memori pada setiap teguk aku mengaduk larut ceritera bersama secangkir kopi krimer ku aku meletakkan catatan dalam ramuan ini; menyatu 12042014 rev 2804
Aku diajak melihat pagi, siang dan malam secara jujur. Memperhatikan daun-daun yang ditetesi embun setelah matahari menggeser bulan. Ayam yang menggerak-gerakkan pita suaranya. Mematikan lampu teras, dapur dan garasi motor. Menyaksikan perubahan warna langit dari hitam, jingga semburat kemerah-merahan, sampai putih semburat kemuning. Manusia bergerak sesuai kehendaknya, namun ada juga yang terbata-bata bersuara, bicara pun tidak nyaring.

Pengakuan

Bersetapak rinai kala Pagi datang kemudian disergah Meski parau, kau Tetap bersambut hangat Tanpa gusar sedikit pun Itulah kau; yang kian semarak menjadi dalang di panggung mu sendiri karna kau tak pernah mau hirau dengan gemuruh tabuh gong mengakhiri Dihentikan gendang kau masih saja bersimbah kala tersaing tanjidor iya tetap saja; kau begitu aku tau karna itulah kau dengan skenario mu sendiri aku memanggil mu kala itu terbata sengat aku bungkam aku mendadak bersembunyi dalam bisu ku ditundukkan oleh pernyataan kalbu iya; aku mengiyakan lalu tersudut aku tempo itu mangut larut catatan dianyam tak ubahnya berseling warna itulah sebab aku menyudut mencari kata pengganti dari sebuah bagaimana karna masih saja aku enggan bergeming dari tabir ku oh; tentu 21042014

Ruang

Tidak berani aku katakan bahwa ini perkara cinta. Itu karna aku sendiri belum merasa mempunyai referensi yang cukup untuk mendefinisikan kata ini. Cukuplah ku katakan sayang. Iya, aku terlanjur menyayangi malam. Ia adalah satu-satunya pekat yang bersahabat. Ia menawarkan ruang istimewa pada ku tanpa syarat. Menyediakan lengang yang bertabuh irama damai. Menyajikan senampan hidangan untuk disantap menanggapi rasa. Keberadaannya memang tidak terjamah indera. Oleh sebab itu ia lincah menari bahagia ketika disambut oleh Sang Malam. Tak ubahnya ruang tamu; ditata sofa empuk, meja bertaplak rajutan, berhias kembang dalam vas, semerbak kembang bernyawa, kaidah estetika dibantu warna terpadu. Aku hanya membukakan pintu pada pukul sekian sampai sekian, di saat orang lain menghembus nafas lelah. Aku hanya berkawan hening. Namun demikian ia justru tak segan untuk sekedar berkunjung kemudian terduduk. Iya, dalam ruangan ini. Ruang tersendiri yang elok luar biasa. 21042014

sekedar

aku hanya sebaris dari sekian dan sekian paragraf rupa narasi aku hanya satu dari seribu butir pasir tercecer bingar   aku menjadi seonggok perkara daging lalu ditiupkan ruh aku adalah alpa yang digadai lupa barang per satu sekon aku disambut gulita saat yang lain asyik bernyawa aku terpincang saat kalian berlari aku terpasung makna saat kalian dibuai lahap aku bertahta hujat ketika kalian rancak menari disambung dakwa digantung norma aku masih berdiri karna gulita adalah sukma dalam lelakon 21042014

prinsip

Sakitnya luar biasa sakit.. sehingga aku hanya melihat belantara gelap gulita jika dipaksa mengingat enam tahun silam. Sampai-sampai aku menjadi seperti ini. Aku menyadari diri ku saat ini. Diri ku yang sekarang, yang luar biasa keras sampai memicu surutnya berat badan ku. Kecewanya luar biasa kecewa.. sehingga aku tak ampun bagi siapapun yang telah mengecewakan aku. Aku sangat cinta kedamaian. Ketenangan yang mahal harganya dan luar biasa nikmatnya. Maka dari itu aku memulai apapun dengan sikap damai dan sejuk. Namun jika ternyata ada yang mengawali untuk menyulutkan api, jangan salahkan aku jika akhirnya ku lemparkan abunya ke wajah mu, tepat mengenai batang hidung mu, kedua mata mu, mulut mu, pipi mu dan bagian-bagian lain pada wajah mu yang tak terjamah jemari. Cerita ku di saat itu membuat ku tangguh sekaligus rapuh. Aku rapuh untuk mendefinisikan tangguh ku. Aku nyaris selalu nyinyir melihat setiap pasang manusia generasi adam dan hawa yang lalu lalang bersenang-senang...

Ketika

direngkuh masa hingga bertabuh deru menjadi gagap menyambut rasa. letupan peluru ditembus kecamuk hasrat kemudian silih dipadu tertib meski berbeda. ungu masih singgah padahal tak bertempat katanya selisih hendak dikata mencari. semerbak dibantu kicau beralas bumi beratap langit membantu bertanya. bersambut damai dalam genderang parau berteman kata dirangkai berbilang khayal. bertahan dalam goresan sebilah definisi ketika makna tercatat sebagai bukti. Gowongan, 15042014

kamu

aku menyapa mu malam ini aku menyebutkan nama mu pada malam ke sekian aku membuka catatan iya untuk malam seperti ini aku merendam ceritera bersama secangkir kopi krimer ku aku meletakkan sapa dalam ramuan ini; menyatu 12042014

Tentang Ilmu

Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang secara tidak langsung itu sama saja membukakan mata ku untuk kembali melihat realitas; bahwa tidak semua orang memiliki cita-cita muluk, semuluk cita-cita ku. Tidak setiap orang memiliki ambisi membara; menyala-nyala seterang ambisi ku. Aku diajak melihat ke bawah. Aku ditunjukkan pada kenyataan bahwa masih ada mereka yang memiliki tingkat pendidikan tidak lebih dari Sekolah Menengah Pertama. Masih ada. Walaupun pendaftar sekolah pascasarjana juga tidak sedikit. Meskipun begitu, dia masih mampu bernafas dan bertahan hidup. Bahkan secara kasat mata jika melihat penampilannya, bukan terlihat sebagai lulusan sekolah menengah pertama. Itu betul adanya. Ya itulah realitas. Dia mampu bertahan bahkan mungkin lebih dari cukup secara finansial. Tentang ilmu? aku justru balik bertanya sekaligus berkesimpulan. Bahwa ilmu itu beragam adanya. Ilmu itu bukan sebatas aksara ABCDE beserta aturan baku berbuku-buku dalam sistem yang sistematis. Prinsip bukan s...

Omong Kosong

kalian bisa apa saat ceritera sedang asyik berkunjung dalam tempo lalu kalian bisa apa saat ada luka di sana dan di sini kalian bisa apa saat guncangan melanda mengoyak damai kalian tau apa saat perubahan bertubi bukan karna tangan kalian kalian tau apa saat bukan kalian si empunya kuasa kalian tau apa saat daya sekian bukan daya mu kalian tidak tau apa-apa kalian hanya bisa bersuara tanpa sudi menanggung sederet latar sebab itulah kalian kalian dengan ceritera kalian sendiri sibuk membetulkan krah kemeja milik tetangga lupa dengan kancing baju sendiri 09042014

Bukan aku!

Lalu bagaimana jika aku begini adanya.. kasar mungkin? acuh dan angkuh? terlalu bebas dan semaunya sendiri? Iya aku begini, lalu apa masalahnya?. Semakin waktu aku merasa semakin bebas untuk berbuat dan berfikir. Aku menikmati kebebasan ini, apakah salah? apakah kenikmatan yang aku rasakan menimbulkan masalah baru di antara aku dan kamu?. Semua cerita ku di hari kemarin hanya aku yang menjalani, bukan kamu atau kalian sekalipun. Kalian tidak tau apa-apa tentang cerita yang aku punya dan semuanya itu. Semua hal yang membuat ku mungkin bagi kalian aku adalah perempuan yang kasar, acuh dan angkuh. Ya begini adanya, bukan aku yang meminta untuk menjadi seperti ini. Kalau kalian ingin membicarakan aku, bicaralah kalian pada Nya yang telah menciptakan aku bersama dengan semua cerita yang ku miliki. Sakit hati dengan latar tempo dulu itu adalah aku. Aku adalah perempuan si pemilik cerita tidak enak yang sangat mengecewakan. Sangat menyakitkan. Apakah dengan kalian berbicara tentang ku kemudi...

indah

meraup aksara menjuntai mengejawantah kata gemulai merinci jarak berbilang sentimeter tinta terlanjur mesra merangkul untai kata abadi dalam sejuta kertas berbilang buku 08042014

Mahal

Ketika kau bertanya, hal apa yang paling berharga dalam keseharian ku.. maka akan ku jawab; malam. Malam adalah waktu terindah bagi ku yang tidak pernah dapat aku deskripsikan dalam sekian larik puisi. Semua puisi-puisi ku belum menjadi cukup untuk mensyukuri keberadaan malam yang Dia berikan. Malam seperti ini yang aku katakan mahal harganya. Duduk manis di depan laptop, membuka beberapa page kosong untuk menulis kata-kata menakjubkan, mendengarkan lantunan musik dan instrumen atau terkadang senyap, dan.. sendiri. Kesendirian. Ketenangan dalam kesendirian yang luar biasa indah tak terjamah oleh kata dan parafrasa. Aku tidak dapat mengizinkan siapapun dan apapun hadir mengusik duduk ku. Inilah hal terindah yang tak ternilai oleh rupiah sekalipun. Ketenangan. 08042014

cercah

aku disapa cahaya saat kau masih lelap dihembus angin belukar terkoyak aku didekati hangat saat kau masih terduduk diorak arik secawan air ruah aku diberkati tulus saat kau masih berjalan dihempas kalut kertas-kertas porak kita berbeda dalam cerita kita satu laras dalam tempo syahdu! 03042014

SALAM

Hai partai anggun versi mu menghapus santun pesona mu menunda elok gugur Hai partai aura mu runtuh meletakkan ewuh di tempat lupa murah Hai partai langkah mu bak pemilik tunggang langgang bak juragan rapuh Hai partai salam dari sini bludas bludus ibarat penting ricuh menyimpan moral berkoar nafsu tenggelam untuk anak bangsa; pun kau mengancam guncang orang belajar terdidik hancur 03042014

kamu bukan Dia

sekian dan sekian segitu kira-kira "cerita" tentang prediksi manusia satu dan satunya; merasa akan "bersama" selamanya sekian analogi dipakai untuk mengibaratkan kamu dan kamu spekulasi mu meleset; bukan itu mau Nya! salam damai, Dia sudah lebih tau; tentang kamu dan kamu 01042014

Lihat nanti..

Kalian tau? Ini masih ssangat pagi. Namun aku justru menikmati pagi ini dengan membuka laptop kesayangan. Aku justru asyik menikmati percakapan ku dengan blog ini. Padahal sebetulnya alangkah lebih pantas jika aku berdiri di sana, menyambut anak-anak yang baru berangkat ke sekolah dengan wajah beraneka rupa; wajah sudah segar namun datar, wajah berseri-seri untuk siap belajar, wajah tidak mandi karna bangun kesiangan dan wajah itu-itu saja yang selalu datang terlambat di sekolah tentunya dengan seribu alasan yang hanya dirolling setiap harinya. Aku sedang berusaha ikhlas menjalani ini semua. Aku sedang berusaha menjadi seseorang yang selama ini justru aku ragukan. Jangankan kamu, yang dengan ringan mengatakan "aku lebih suka menjadi dosen, aku tidak sabar menghadapi anak-anak". Itu ringan untuk kamu katakan, karna memang kamu sudah pasti akan melanjutkan studi mu dengan biaya sendiri. Sedangkan aku? aku tidak bisa untuk melisankan itu karna itu belum menjadi suatu kepastian....