Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Lihat nanti..

Kalian tau? Ini masih ssangat pagi. Namun aku justru menikmati pagi ini dengan membuka laptop kesayangan. Aku justru asyik menikmati percakapan ku dengan blog ini. Padahal sebetulnya alangkah lebih pantas jika aku berdiri di sana, menyambut anak-anak yang baru berangkat ke sekolah dengan wajah beraneka rupa; wajah sudah segar namun datar, wajah berseri-seri untuk siap belajar, wajah tidak mandi karna bangun kesiangan dan wajah itu-itu saja yang selalu datang terlambat di sekolah tentunya dengan seribu alasan yang hanya dirolling setiap harinya. Aku sedang berusaha ikhlas menjalani ini semua. Aku sedang berusaha menjadi seseorang yang selama ini justru aku ragukan. Jangankan kamu, yang dengan ringan mengatakan "aku lebih suka menjadi dosen, aku tidak sabar menghadapi anak-anak". Itu ringan untuk kamu katakan, karna memang kamu sudah pasti akan melanjutkan studi mu dengan biaya sendiri. Sedangkan aku? aku tidak bisa untuk melisankan itu karna itu belum menjadi suatu kepastian....

Ingatan #1

Lagi.. sekian kira-kira kabar bahagia tentang kisah kasih dua anak manusia yang bermuara pada ikatan resmi versi norma. Agama dan negara. Merasa biasa saja mendengar kabar sekian banyaknya. Bahkan beberapa undangan tersebut aku diamkan saja tergeletak di meja. Tidak tau pasti aku sedang berada di titik koordinat mana dan mana. Yang aku tau pasti, itu semua adalah hal lumrah duniawi yang sebenarnya hakiki dicari manusia. Mereka ganas mencari penghapus dahaga nafsu dan urusan perut. Apalagi kalau bukan itu?. Padahal semua itu sebetulnya adalah singkat. Bernyawa, mencari isi perut, mencari isi penghapus dahaga nafsu magnet mata lawan jenis, berhasrat, berkembangbiak, memelihara, usia senja kemudian dan.. kematian. Itu saja perjalanan manusia. Sangat singkat. Aku bertanya pada kemudahan yang tidak ku dapatkan. Mengapa selama ini kau tidak berpihak kepada ku?. Kini semua itu membuat ku berfikir sedemikian sulit. Bangun dari keterpurukan "cerita" itu bukan hal mudah. Tidak semudah ...

Dasar Kopi #2

Ternyata terlalu kaku. Padahal sebetulnya air yang dituang tidak harus sampai mendekati bibir gelas. Bahwa sebetulnya air itu hanya sebagai pelarut; agar serbuk-serbuk kafein dapat diseduh berupa cair. Tidak sampai mulut ini belepotan mengunyah serbuk-serbuk kafein itu.

Aroma

Kamu tau? Kemungkinan terbesar yang sedang menjadi praduga ku sementara ini adalah; kita saling bertanya. Iya, kita saling bertanya namun di tempat yang berbeda. Kita tetap terduduk dalam diam kita masing-masing. Kita saling berhati-hati, seperti kata mu; "hati-hati". Sama. Aku juga membalas kata-kata mu dengan secuil kata repetisi itu; "hati-hati". Kita saling berhati-hati rupanya. Namun sayang; aku mencium aroma tajam dari pernyataan sikap mu. Aku tidak sedang mencuri. Justru aku tidak menyengaja. Aku juga tidak bemaksud memancing. Aku tidak mau berperan sebagai pemancing. Aku sudah berlaku adil terhadap logika ku. Aku berusaha permisi dengan logika ku. Itu karena aku tidak mau berada di posisi bodoh. Aku perempuan. Sadar atas kekurangan seorang perempuan yang cenderung emosional, maka aku tidak rela menambah dampak dari kondisi emosional itu. Aku tidak mau bodoh.