Langsung ke konten utama

Kesakitan Pancasila

Pertunjukan istimewa.
Tempat dimana aku dapat melihat
para penilai asyik mempertanyakan
hal-hal yang bohong.
Bukan kejujuran.
Padahal ini tempatnya belajar tentang
ilmu yang mengajarkan tentang
Tuhan,
tentang manusia,
tentang negara bersatu,
tentang masyarakat bijak,
tentang keadilan bagi warga negara.

Namun lagi-lagi tercengang dalam
pertunjukan istimewa.
Para penilai maklum kebohongan
Pembohong elok merupa reka.
Memahat gumpalan-gumpalan lugu menjadi
nafik.

Tidak perlu bertuhan.
Tidak perlu bermartabat.
Tidak perlu menyoal satu.
Tidak perlu menuding milik.
Tidak perlu menoreh adil.

Pertunjukan istimewa masih berlangsung.

24 Sep- 01 Okt 14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian) Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala. Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti...

Bicara!

Biarkan malam bicara tentang kerumunan di jalan yang tak henti memperbincangkan tentang pepohonan menyibak kilau lampu mesin kendaraan dan gedung gedung yang sibuk juga keengganan tenda untuk berbinar padahal semua tetap saja; lewat dan berlalu sayang; malam masih saja malu Mentri Supeno, Jogja