Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Darah Ini

cahaya. lampu sorot berpendar kendang saron gong piano drum suling penari penyanyi bunyi. berderu dalam kesatuan, tumpah. menyatu hingga panggung tunduk, megah. menyihir ratusan pasang mata, nganga. lancang mengoyak kuduk tengkuk sampai ketiak, rantak. merogoh jantung punya letak, detak. mendikte penangkapan daun telinga, meraup. telapak tangan dan telapak kaki tak bergumam mereka tunduk pada intruksi rasa tamparan ini tamparan menyodok rusuk rusuk berdaging tipis membuat nganga bertahan lama oleh sembilu ngilu ternyata ini ternyata riuh bunyi yang kau suka kebebasan yang kau kejar kebebasan yang kau minta kebebasan yang kau mau kebebasan yang kau rindu kebebasan yang kau peluk kebebasan yang kau sanding kau pernah mengatakan pada ku bahwa kau bebas dalam kebebasan yang bebas kau bergerak dalam irama kau bernafas dalam aroma nada sampai kini aku menyatakan lepas dari mu, dari mu namun ternyata tidak demikian oleh mu sebab darah mu a...

Pada Kedalaman Makna

Terjepit. Satu kata yang cukup untuk menjadi wakil, menjelentrehkan kondisi sulit ketika menatap kanan dan kiri. Bergeser pun sepertinya akan terjerembap, apalagi diam di tempat. Justru akan menambah sayatan-sayatan baru. Akhirnya?, luka lama bernanah dan memuntahkan kelengketan-kelengketan legit pasi. Sudah bukan lagi darah. Bukan. Obat-obat oles yang hanya menjanjikan di permukaan pun malah sekonyong-konyong menambah cairan lengket semakin tumpah. Kasa pembalut sia-sia merobekkan diri demi perjanjian-perjanjian nista. Cairan lengket masih meluap. Terhuyung adalah kegetiran tersebab cairan di dalam tidak bersisa. Hanya mampu merangkak, menapak telapak tangan, meraba tembok-tembok gogrok, menyudut pada sudut kecut aroma nafas. Tidak ada anak-anak panah bertunjuk arah seperti milik tembok yang lain. Tersudut mutlak tanpa elak. Melepas kasa terserak, memeras kelengketan-kelengketan jinak, menjahit sayatan-sayatan nganga. Meneriakkan nyeri dalam ketulian dan kebutaan. Terhuyung bukan perm...

Protes dan Proses

Sekarang kalian protes; karna memang itu yang kalian bisa untuk saat ini. Nanti sekitar lima, tujuh, atau beberapa puluh taun mendatang kalian akan terkekeh; menertawakan saat ini dan mengangguk-angguk pertanda paham. Iya, besok.. bukan sekarang. Itu merupakan catatan pribadi yang kini menjadi kesimpulan saya tentang hakikat sebuah proses. Perubahan dan pergantian yang menjadi keniscayaan tersendiri. Iya, justru saya sempat mengiyakan pendapat teman saya tentang perubahan. Ia mengatakan bahwa "perubahan itu adalah keniscayaan yang abadi". Terlalu banyak faktor yang dapat menjadi sebab musabab suatu perubahan pada diri seseorang. Apabila diperhatikan berdasarkan asal pengaruhnya, ada faktor internal dan juga eksternal. Kedua hal ini berlainan namun sangat mempengaruhi pada prosesnya. Oleh karena hal-hal eksternal lah semua hal yang ada pada diri individu dapat berubah pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini kita bicara soal siswa. Ia merupakan seorang anak yang memiliki kewa...

Bisikan Maut

kelakar mu tidak lucu, wahai bapak pemilik kursi singgasana aku yakin telinga mu masih berfungsi. Mereka berdecak di luar sana. Apakah kau betul-betul tidak mendengarnya, Pak? aku yakin nyata-nyata mata mu masih berfungsi. Mereka pucat pasi di luar sana. Apakah perlu kau lepas daun pintu mu agar betul-betul nampak oleh mu warna pakaian mereka? Baiklah... kemari sebentar lalu akan aku bantu kau dengan sedikit berbisik saja agar mereka tidak tau bahwa kau betul-betul membutuhkan bantuan. Iya, kau. kau yang membutuhkan bantuan kan? Bukan mereka. Justru kau. kau membutuhkan bantuan senyata-nyatanya agar kau lebih mampu mendengar dan melihat. tidak terlampau nyenyak pada sandaran mu di kursi mu, Pak. 13 Oktober 2014

Judul Urusan Nanti

Setidaknya aku mengenal Tuhan ku dengan cara ini. Bahwa pergumulan ini bukan hanya bicara tentang aku dan Kau. Lebih daripada itu, ini tempatnya aku menjadi keranjingan; terbata mengeja aksara-aksara megah Elok rupawan yang menukilkan Syahdu suara para cendekia. Ini bukan menyoal aku dan Kau sahaja Ini urusan bumi dan seisinya Jagad raya kaya persimpangan Mereka melambai-lambai, meminta aku membudak padanya Ramai nuansa dunia. Lalu aku mulai mengenal Kau dan mereka dengan cara ini. Bahwa pergumulan ini bukan hanya bicara tentang aku dan Kau. Di sini tempat aku mengerti bahwa; para Cendekia ialah bidak serupa Laskar Tak untuk membudak pada nuansa dunia. Bersepakat menjaga; urusan bumi dan seisinya. Yogyakarta, 8 Oktober 2014 Ditulis dalam rangka menyambut Milad Muhammadiyah ke- 105 H/ 102 M. Selamat untuk persyarikatan. Salam hebat untuk para pionir serta penerus di dalamnya. Sukses Musyawarah Nasional IV Keluarga Alumni Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (KAMA...

Hubungan

Satu tangkai bunga hidup di dalam vas. Memang tugasnya menjadi penghias meja dalam ruangan. Hal ini diisepakati secara sepihak oleh para pembeli. Kesempatan bertemu dan merawatnya hanya terjadi satu siklus saja, tidak lebih. Ada masanya ia akan mati kemudian meninggalkan keinginan si pemilik. Lalu bagaimana dengan aku dan kamu yang telah saling sepakat untuk berteman?. Ketika kita telah satu suara namun tidak demikian dengan waktu?. Tentang kesempatan... ternyata sama saja hanya terjadi satu siklus saja. Tinggal bagaimana aku dan kamu menjalaninya.

Kesakitan Pancasila

Pertunjukan istimewa. Tempat dimana aku dapat melihat para penilai asyik mempertanyakan hal-hal yang bohong. Bukan kejujuran. Padahal ini tempatnya belajar tentang ilmu yang mengajarkan tentang Tuhan, tentang manusia, tentang negara bersatu, tentang masyarakat bijak, tentang keadilan bagi warga negara. Namun lagi-lagi tercengang dalam pertunjukan istimewa. Para penilai maklum kebohongan Pembohong elok merupa reka. Memahat gumpalan-gumpalan lugu menjadi nafik. Tidak perlu bertuhan. Tidak perlu bermartabat. Tidak perlu menyoal satu. Tidak perlu menuding milik. Tidak perlu menoreh adil. Pertunjukan istimewa masih berlangsung. 24 Sep- 01 Okt 14