Terjepit. Satu kata yang cukup untuk menjadi wakil, menjelentrehkan kondisi sulit ketika menatap kanan dan kiri. Bergeser pun sepertinya akan terjerembap, apalagi diam di tempat. Justru akan menambah sayatan-sayatan baru. Akhirnya?, luka lama bernanah dan memuntahkan kelengketan-kelengketan legit pasi. Sudah bukan lagi darah. Bukan. Obat-obat oles yang hanya menjanjikan di permukaan pun malah sekonyong-konyong menambah cairan lengket semakin tumpah. Kasa pembalut sia-sia merobekkan diri demi perjanjian-perjanjian nista. Cairan lengket masih meluap. Terhuyung adalah kegetiran tersebab cairan di dalam tidak bersisa. Hanya mampu merangkak, menapak telapak tangan, meraba tembok-tembok gogrok, menyudut pada sudut kecut aroma nafas. Tidak ada anak-anak panah bertunjuk arah seperti milik tembok yang lain. Tersudut mutlak tanpa elak. Melepas kasa terserak, memeras kelengketan-kelengketan jinak, menjahit sayatan-sayatan nganga. Meneriakkan nyeri dalam ketulian dan kebutaan. Terhuyung bukan permintaan.
DISFUNGSI KELUARGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK Mata Kuliah: Penulisan Karya Ilmiah Dosen Pengampu: Dra. Sri Tutur Marthaningsih, M. Pd. Disusun Oleh: Nama : Masayu Ninda Arum T. F. N. P. NIM : 09001053 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2011 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia di bumi ini pada umumnya berfitrah untuk melestarikan keturunan, mempunyai dan mewujudkan lingkungan kondusif yang tentram dan sejahtera. Secara umum lingkungan itu dinamakan keluarga. Lingkungan keluarga ibarat organisasi yang di dalamnya terdapat sistem. Dalam sistem tersebut akan ada peraturan dan hukum yang disepakati demi mencapai tujuan bersama dalam rangka keutuhan keluarga. Adapun di dalam keluarga terdiri dari satu orang ayah sebagai pemimpin atau imam, satu orang ibu sebagai pendamping pemimpin keluarga; yaitu ayah. Ketika ayah tidak ada di rumah, maka ib...
Komentar
Posting Komentar