Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Fals

Belajar pada lagu agar paham bagaimana makna kata yang terucap sebelum disuarakan tahu kapan waktu yang pas untuk mengucapkan menempatkan kata dengan tepat pada nadanya sehingga kata-kata itu tidak fals dan tidak sumbang di telinga orang yang mendengar pun tidak terusik berisik menyisik 03122013

munafik

Hai, kau! mempertanyakan doa doa mu sendiri yang padahal biasa kau gunakan untuk agama mu, demi tuhan mu Mengapa saat akan diuji oleh manusia ya; seperti ini maka barulah kau kau mengikuti mengganti bahkan menghafal dalam sekejap doa doa itu?? Lalu selama ini Doa yang kau pakai itu untuk apa? Rutinitas Formalitas ritual keagamaan 27062013 10.41

bisu

lukisan-lukisan nan jujur membuat catatan sendiri tentang cerita bukan, bukan mereka tak punya pendirian tentang mana yang baik dan buruk justru keberadaannyalah yang mewakili semua catatan kejujuran semoga aku tak bernasib sama dengannya tersembunyi rapuh di balik lemari-lemari ternyata begini pilunya kata demi kata menjadi kalimat lembaran dalam buku peristiwa dalam kenangan catatan menjadi cerita untuk menggambarkan arti sebuah kehancuran 13082013 00.17

Bicara!

Biarkan malam bicara tentang kerumunan di jalan yang tak henti memperbincangkan tentang pepohonan menyibak kilau lampu mesin kendaraan dan gedung gedung yang sibuk juga keengganan tenda untuk berbinar padahal semua tetap saja; lewat dan berlalu sayang; malam masih saja malu Mentri Supeno, Jogja

Perpisahan

Kita harus bisa bertahan dalam keadaan apapun Mampu berperang walau sendirian Karma bagaimana pun nanti, kita akan tetap sendirian Harus mampu menjalani suka maupun duka sendirian Sebab tawa dan air mata yang pernah lita bagi pada teman kita, hanya akan terbagi pada suatu waktu saja Tidak akan terbagi di waktu2 mendatang. Perpisahan sudah tentu ada, seperti pesta yang pasti akan usai

kau

kau membuat jemari ku kembali menyentuh tuts keyboard ini kau masih saja hadir di sini di sini ya; di sini mengapa kau masih saja hadir? aku tak mengundang mu sebelumnya namun mengapa kau tetap hadir? i have time for sending all to you this time will be surprised for my self i don't care how about yours

Busuk

Busuk Satu kata untuk menggambarkan mu; NILAI. Kau sama busuknya dengan tempe yang dianggap sedap oleh sebagian masyarakat. Tempe busuk yang busuk namun tersaji dalam campuran tumis- Ca Kangkung. Orang-orang menganggap tumisan kangkung akan lebih sedap jika diberi campuran tempe busuk seperti mu. NILAI. Kau ditawar-tawar oleh mereka yang paham tentang moral. Kau menjadi bahan iming-iming terhadap mereka yang haus oleh hadir mu. Bagaimana tidak, dengan memiliki mu maka casing mereka akan lebih baik di hadapan yang lain. Mereka akan tampak anggun dengan balutan sebuah NILAI. Aktivitas moral seolah lebih cantik ketika dikemas bersama simpul pita sebuah NILAI. Padahal, ia datang bukan dari yang Maha. Bisa saja mereka menerka-nerka mereka untuk sebuah kepantasan label NILAI. Oh, sungguh gaduhnya tempat ini. Tempat yang katanya aku dan mereka bertempat di lingkungan yang berkemajuan, terpelajar karna belajar, terdidik oleh sebuah proses pembelajaran dan melahap berbagai NILAI-NILAI keagun...

Mimpi?

tidak, tidak, bukan, bukan, tidak dan bukan mimpi namun tiba-tiba saja ingatan-ingatan pada tahun-tahun sebelumnya muncul bukan cuma itu bertahun-tahun lamanya; ber- rim-rim kertas HVS A4 dan F4 terbeli mesin fotokopi yang sabar tinta pena tergores energi waktu pikiran dan... uang! sekian tahun seolah baru saja bangun dari tidur lelap melenakan MIMPI?

Berpikirlah!

Mendadak nyinyir, mendengar opini idealis dari teman ketika bicara tentang pernikahan usia muda. Pernikahan menyempurnakan separuh agama. Pernikahan membuka pintu rejeki. Pernikahan akan menyelamatkan diri. Pernikahan akan memudahkan segala urusan. Pernikahan akan menjadi segala-galanya. Dan saya adalah orang pertama yang akan meminta kepada mereka (yang ceramah di hadapan saya tentang hal tersebut) untuk berpikir dua kali sebelum bicara di hadapan saya. Bahkan mungkin berpikirlah tiga kali, empat kali, lima kali, kalau perlu seribu kali!.

Menjadi Guru

Ada cerita yang kalian suguhkan tentang menjadi seorang guru. Guru Bahasa Inggris.. Membuat saya teringat pada ayah. Beliau adalah seorang guru Bahasa Inggris. Banyak juga cerita yang beliau sampaikan ketika dulu saya belum duduk di bangku kuliah. Cerita tentang siswa yang gemar membolos, cerita dengan teman duduk di dalam kelas, siswa pindahan dari sekolah lain, tingkah siswa ketika mengerjakan soal ulangan harian. Namun sayang, mengapa sampai saat ini saya belum berkeinginan menjadi seorang guru?. Jika diperhatikan jenis disiplin ilmu apa yang saya pilih, pernyataan ini mengherankan memang. Namun saya berusaha jujur pada diri sendiri. Berusaha tidak menutupi kehendak yang sesungguhnya. saya tetap berusaha berprasangka baik; mungkin belum saja..

TULISen..

TULIS. Apa saja itu; tulis. Bahkan mulai dari yang namanya buku harian; tulis. Piye-piye; tulis-en.. 1. Sebagai terapi (refleksi jiwa&raga) 2. Sebagai upaya mengasah stabilitas kognisi&afeksi 3. Apresiasi terhadap endapan renungan tak terlisankan 4. Manifestasi naluri "berbagi" 5. Pertahanan memori=tak musnah dimakan zaman
kebahagiaan bukan sekedar urusan rupiah kebahagiaan bukan sekedar urusan sesuap nasi atau setangkup hamburger kebahagiaan bukan sekedar urusan nilai A kebahagiaan bukan sekedar urusan tertawa terbahak kebahagiaan bukan sekedar urusan rumah idaman kebahagiaan bukan sekedar banyak kawan, duduk bersama, bincang-bincang, pasang wajah ceria, satu visi misi.

Bukan Siapa-siapa

tidak perlu merasa kecewa jika memang tidak ada pengharapan tidak perlu merasa sakit jika memang tidak ada luka tidak perlu merasa kehilangan jika memang tidak ada memiliki tidak perlu ada kesedihan jika memang bukan masalah tidak perlu ada khayalan jika bukan Maha Tahu satu pembelajaran bersikap terhadap orang lain pesan tentang: "Jangan berlebihan mencintai seseorang karna bisa jadi berubah menjadi benci. Dan tidak perlu berlebihan membenci karna kelak berubah menjadi sebaliknya (cinta)". Lamat-lamat kupandangi tulisan kalimat ini. Ku pahami betul-betul apa yang tersirat. Menyadarkan aku pada apa yang sudah ku alami. Tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya Engkau Yang Maha Berkehendak

Di Warung Penjual Tahu Masak

Seperti tahu yang dipotong-potong kotak digoreng dilumuri bumbu kacang ditaburi irisan kubis dan remukan krupuk merah muda kriuuk... melalaikan aku pada sambatan lapar ku sepiring tahu masak yang menyelimur ku dari rutinitas dua puluh satu hari ku dua puluh satu hari ku dengan rancangan-rancangan rancangan mengabdi pada masyarakat pada masyarakat sebuah institusi pendidikan aku bersembunyi dibalik almamater ku bapak dan ibu di balik pakaian dinasnya adik-adik dibalik seragamnya tertib ibu pembeli tahu masak juga berkisah itu cucu ku yang masih gamang akan kemana setelah sekolah kejuruan nanti kuliah pun jurusan apa biaya kuliah sekarang berapa kelak akhirnya tetap sama saja mencari kerja satu sendokan tahu bersama ketupat dan kerupuk kriuuk...  ibu penjual tahu masak duduk bersanding dengan wajan dan tahu-tahu nyambi diambilnya juga rengginan mentah rengginan matang dientaskan dari minyak goreng panas mengepul pilahan antara ulekan cabe dan ketupat ...