Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

KAMU

aku menyapa mu malam ini; "Bagaimana kabar?." aku menyebutkan nama mu pada malam ke sekian aku memutar kembali memori pada setiap teguk aku mengaduk larut ceritera bersama secangkir kopi krimer ku aku meletakkan catatan dalam ramuan ini; menyatu 12042014 rev 2804
Aku diajak melihat pagi, siang dan malam secara jujur. Memperhatikan daun-daun yang ditetesi embun setelah matahari menggeser bulan. Ayam yang menggerak-gerakkan pita suaranya. Mematikan lampu teras, dapur dan garasi motor. Menyaksikan perubahan warna langit dari hitam, jingga semburat kemerah-merahan, sampai putih semburat kemuning. Manusia bergerak sesuai kehendaknya, namun ada juga yang terbata-bata bersuara, bicara pun tidak nyaring.

Pengakuan

Bersetapak rinai kala Pagi datang kemudian disergah Meski parau, kau Tetap bersambut hangat Tanpa gusar sedikit pun Itulah kau; yang kian semarak menjadi dalang di panggung mu sendiri karna kau tak pernah mau hirau dengan gemuruh tabuh gong mengakhiri Dihentikan gendang kau masih saja bersimbah kala tersaing tanjidor iya tetap saja; kau begitu aku tau karna itulah kau dengan skenario mu sendiri aku memanggil mu kala itu terbata sengat aku bungkam aku mendadak bersembunyi dalam bisu ku ditundukkan oleh pernyataan kalbu iya; aku mengiyakan lalu tersudut aku tempo itu mangut larut catatan dianyam tak ubahnya berseling warna itulah sebab aku menyudut mencari kata pengganti dari sebuah bagaimana karna masih saja aku enggan bergeming dari tabir ku oh; tentu 21042014

Ruang

Tidak berani aku katakan bahwa ini perkara cinta. Itu karna aku sendiri belum merasa mempunyai referensi yang cukup untuk mendefinisikan kata ini. Cukuplah ku katakan sayang. Iya, aku terlanjur menyayangi malam. Ia adalah satu-satunya pekat yang bersahabat. Ia menawarkan ruang istimewa pada ku tanpa syarat. Menyediakan lengang yang bertabuh irama damai. Menyajikan senampan hidangan untuk disantap menanggapi rasa. Keberadaannya memang tidak terjamah indera. Oleh sebab itu ia lincah menari bahagia ketika disambut oleh Sang Malam. Tak ubahnya ruang tamu; ditata sofa empuk, meja bertaplak rajutan, berhias kembang dalam vas, semerbak kembang bernyawa, kaidah estetika dibantu warna terpadu. Aku hanya membukakan pintu pada pukul sekian sampai sekian, di saat orang lain menghembus nafas lelah. Aku hanya berkawan hening. Namun demikian ia justru tak segan untuk sekedar berkunjung kemudian terduduk. Iya, dalam ruangan ini. Ruang tersendiri yang elok luar biasa. 21042014

sekedar

aku hanya sebaris dari sekian dan sekian paragraf rupa narasi aku hanya satu dari seribu butir pasir tercecer bingar   aku menjadi seonggok perkara daging lalu ditiupkan ruh aku adalah alpa yang digadai lupa barang per satu sekon aku disambut gulita saat yang lain asyik bernyawa aku terpincang saat kalian berlari aku terpasung makna saat kalian dibuai lahap aku bertahta hujat ketika kalian rancak menari disambung dakwa digantung norma aku masih berdiri karna gulita adalah sukma dalam lelakon 21042014

prinsip

Sakitnya luar biasa sakit.. sehingga aku hanya melihat belantara gelap gulita jika dipaksa mengingat enam tahun silam. Sampai-sampai aku menjadi seperti ini. Aku menyadari diri ku saat ini. Diri ku yang sekarang, yang luar biasa keras sampai memicu surutnya berat badan ku. Kecewanya luar biasa kecewa.. sehingga aku tak ampun bagi siapapun yang telah mengecewakan aku. Aku sangat cinta kedamaian. Ketenangan yang mahal harganya dan luar biasa nikmatnya. Maka dari itu aku memulai apapun dengan sikap damai dan sejuk. Namun jika ternyata ada yang mengawali untuk menyulutkan api, jangan salahkan aku jika akhirnya ku lemparkan abunya ke wajah mu, tepat mengenai batang hidung mu, kedua mata mu, mulut mu, pipi mu dan bagian-bagian lain pada wajah mu yang tak terjamah jemari. Cerita ku di saat itu membuat ku tangguh sekaligus rapuh. Aku rapuh untuk mendefinisikan tangguh ku. Aku nyaris selalu nyinyir melihat setiap pasang manusia generasi adam dan hawa yang lalu lalang bersenang-senang...

Ketika

direngkuh masa hingga bertabuh deru menjadi gagap menyambut rasa. letupan peluru ditembus kecamuk hasrat kemudian silih dipadu tertib meski berbeda. ungu masih singgah padahal tak bertempat katanya selisih hendak dikata mencari. semerbak dibantu kicau beralas bumi beratap langit membantu bertanya. bersambut damai dalam genderang parau berteman kata dirangkai berbilang khayal. bertahan dalam goresan sebilah definisi ketika makna tercatat sebagai bukti. Gowongan, 15042014

kamu

aku menyapa mu malam ini aku menyebutkan nama mu pada malam ke sekian aku membuka catatan iya untuk malam seperti ini aku merendam ceritera bersama secangkir kopi krimer ku aku meletakkan sapa dalam ramuan ini; menyatu 12042014

Tentang Ilmu

Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang secara tidak langsung itu sama saja membukakan mata ku untuk kembali melihat realitas; bahwa tidak semua orang memiliki cita-cita muluk, semuluk cita-cita ku. Tidak setiap orang memiliki ambisi membara; menyala-nyala seterang ambisi ku. Aku diajak melihat ke bawah. Aku ditunjukkan pada kenyataan bahwa masih ada mereka yang memiliki tingkat pendidikan tidak lebih dari Sekolah Menengah Pertama. Masih ada. Walaupun pendaftar sekolah pascasarjana juga tidak sedikit. Meskipun begitu, dia masih mampu bernafas dan bertahan hidup. Bahkan secara kasat mata jika melihat penampilannya, bukan terlihat sebagai lulusan sekolah menengah pertama. Itu betul adanya. Ya itulah realitas. Dia mampu bertahan bahkan mungkin lebih dari cukup secara finansial. Tentang ilmu? aku justru balik bertanya sekaligus berkesimpulan. Bahwa ilmu itu beragam adanya. Ilmu itu bukan sebatas aksara ABCDE beserta aturan baku berbuku-buku dalam sistem yang sistematis. Prinsip bukan s...

Omong Kosong

kalian bisa apa saat ceritera sedang asyik berkunjung dalam tempo lalu kalian bisa apa saat ada luka di sana dan di sini kalian bisa apa saat guncangan melanda mengoyak damai kalian tau apa saat perubahan bertubi bukan karna tangan kalian kalian tau apa saat bukan kalian si empunya kuasa kalian tau apa saat daya sekian bukan daya mu kalian tidak tau apa-apa kalian hanya bisa bersuara tanpa sudi menanggung sederet latar sebab itulah kalian kalian dengan ceritera kalian sendiri sibuk membetulkan krah kemeja milik tetangga lupa dengan kancing baju sendiri 09042014

Bukan aku!

Lalu bagaimana jika aku begini adanya.. kasar mungkin? acuh dan angkuh? terlalu bebas dan semaunya sendiri? Iya aku begini, lalu apa masalahnya?. Semakin waktu aku merasa semakin bebas untuk berbuat dan berfikir. Aku menikmati kebebasan ini, apakah salah? apakah kenikmatan yang aku rasakan menimbulkan masalah baru di antara aku dan kamu?. Semua cerita ku di hari kemarin hanya aku yang menjalani, bukan kamu atau kalian sekalipun. Kalian tidak tau apa-apa tentang cerita yang aku punya dan semuanya itu. Semua hal yang membuat ku mungkin bagi kalian aku adalah perempuan yang kasar, acuh dan angkuh. Ya begini adanya, bukan aku yang meminta untuk menjadi seperti ini. Kalau kalian ingin membicarakan aku, bicaralah kalian pada Nya yang telah menciptakan aku bersama dengan semua cerita yang ku miliki. Sakit hati dengan latar tempo dulu itu adalah aku. Aku adalah perempuan si pemilik cerita tidak enak yang sangat mengecewakan. Sangat menyakitkan. Apakah dengan kalian berbicara tentang ku kemudi...

indah

meraup aksara menjuntai mengejawantah kata gemulai merinci jarak berbilang sentimeter tinta terlanjur mesra merangkul untai kata abadi dalam sejuta kertas berbilang buku 08042014

Mahal

Ketika kau bertanya, hal apa yang paling berharga dalam keseharian ku.. maka akan ku jawab; malam. Malam adalah waktu terindah bagi ku yang tidak pernah dapat aku deskripsikan dalam sekian larik puisi. Semua puisi-puisi ku belum menjadi cukup untuk mensyukuri keberadaan malam yang Dia berikan. Malam seperti ini yang aku katakan mahal harganya. Duduk manis di depan laptop, membuka beberapa page kosong untuk menulis kata-kata menakjubkan, mendengarkan lantunan musik dan instrumen atau terkadang senyap, dan.. sendiri. Kesendirian. Ketenangan dalam kesendirian yang luar biasa indah tak terjamah oleh kata dan parafrasa. Aku tidak dapat mengizinkan siapapun dan apapun hadir mengusik duduk ku. Inilah hal terindah yang tak ternilai oleh rupiah sekalipun. Ketenangan. 08042014

cercah

aku disapa cahaya saat kau masih lelap dihembus angin belukar terkoyak aku didekati hangat saat kau masih terduduk diorak arik secawan air ruah aku diberkati tulus saat kau masih berjalan dihempas kalut kertas-kertas porak kita berbeda dalam cerita kita satu laras dalam tempo syahdu! 03042014

SALAM

Hai partai anggun versi mu menghapus santun pesona mu menunda elok gugur Hai partai aura mu runtuh meletakkan ewuh di tempat lupa murah Hai partai langkah mu bak pemilik tunggang langgang bak juragan rapuh Hai partai salam dari sini bludas bludus ibarat penting ricuh menyimpan moral berkoar nafsu tenggelam untuk anak bangsa; pun kau mengancam guncang orang belajar terdidik hancur 03042014

kamu bukan Dia

sekian dan sekian segitu kira-kira "cerita" tentang prediksi manusia satu dan satunya; merasa akan "bersama" selamanya sekian analogi dipakai untuk mengibaratkan kamu dan kamu spekulasi mu meleset; bukan itu mau Nya! salam damai, Dia sudah lebih tau; tentang kamu dan kamu 01042014