Bersetapak rinai kala
Pagi datang kemudian disergah
Meski parau, kau
Tetap bersambut hangat
Tanpa gusar sedikit pun
Itulah kau; yang
kian semarak menjadi dalang
di panggung mu sendiri karna
kau tak pernah mau hirau dengan
gemuruh tabuh gong mengakhiri
Dihentikan gendang kau masih
saja bersimbah kala
tersaing tanjidor
iya tetap saja; kau begitu
aku tau karna
itulah kau dengan skenario mu
sendiri
aku memanggil mu kala itu
terbata sengat aku bungkam
aku mendadak bersembunyi dalam bisu
ku
ditundukkan oleh pernyataan kalbu
iya; aku mengiyakan
lalu tersudut aku tempo itu
mangut larut catatan dianyam
tak ubahnya berseling warna
itulah sebab aku menyudut
mencari kata pengganti dari sebuah
bagaimana
karna masih saja aku enggan
bergeming dari
tabir ku
oh; tentu
21042014
Komentar
Posting Komentar