Langsung ke konten utama

Pengakuan



Bersetapak rinai kala
Pagi datang kemudian disergah
Meski parau, kau
Tetap bersambut hangat
Tanpa gusar sedikit pun
Itulah kau; yang
kian semarak menjadi dalang
di panggung mu sendiri karna
kau tak pernah mau hirau dengan
gemuruh tabuh gong mengakhiri
Dihentikan gendang kau masih
saja bersimbah kala
tersaing tanjidor
iya tetap saja; kau begitu
aku tau karna
itulah kau dengan skenario mu sendiri

aku memanggil mu kala itu
terbata sengat aku bungkam
aku mendadak bersembunyi dalam bisu ku
ditundukkan oleh pernyataan kalbu
iya; aku mengiyakan

lalu tersudut aku tempo itu
mangut larut catatan dianyam
tak ubahnya berseling warna
itulah sebab aku menyudut

mencari kata pengganti dari sebuah bagaimana
karna masih saja aku enggan bergeming dari
tabir ku
oh; tentu

21042014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

lama tak kesini

bertemu dengan kalian sungguh membuatku bersyukur dari sekian tempat ku kunjungi sampai akhirnya mengantarku pada tempat yang sekarang membuat ku semakin merasa aaaarrggh; s u l i t memang benar, kemarin aku katakan demikian aku bosan dengan rutinitas seperti itu dan untuk saat ini aku ingin berada pada satu tempat dimana aku dapat melangkahkan kaki dengan mantap dan sigap satu tempat yang membuat ku berjalan tanpa ragu setelah aku keluar dari sana, semua justru berjalan di luar dugaan dan harapan dua tempat itu kini menjadikan aku terdakwa

APA

rupa-rupa wajah makhluk Mu hendak kemana hari ini? rupa-rupa bentuk makhluk Mu hendak bicara apa hari ini? rupa-rupa elok warna makhluk Mu hendak bersimbol apa hari ini? rupa-rupa tumindak anggun makhluk Mu hendak berbekal apa untuk esok?   01022014