Sekarang kalian protes; karna memang itu yang kalian bisa untuk saat ini. Nanti sekitar lima, tujuh, atau beberapa puluh taun mendatang kalian akan terkekeh; menertawakan saat ini dan mengangguk-angguk pertanda paham. Iya, besok.. bukan sekarang.
Itu merupakan catatan pribadi yang kini menjadi kesimpulan saya tentang hakikat sebuah proses. Perubahan dan pergantian yang menjadi keniscayaan tersendiri. Iya, justru saya sempat mengiyakan pendapat teman saya tentang perubahan. Ia mengatakan bahwa "perubahan itu adalah keniscayaan yang abadi". Terlalu banyak faktor yang dapat menjadi sebab musabab suatu perubahan pada diri seseorang. Apabila diperhatikan berdasarkan asal pengaruhnya, ada faktor internal dan juga eksternal. Kedua hal ini berlainan namun sangat mempengaruhi pada prosesnya. Oleh karena hal-hal eksternal lah semua hal yang ada pada diri individu dapat berubah pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini kita bicara soal siswa. Ia merupakan seorang anak yang memiliki kewajiban belajar di sekolah dengan jadwal yang sudah ditentukan beserta tata tertib yang wajib ditaati. Namanya juga kewajiban, jadi ketika tidak dilaksanakan maka akan memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang menjadi "tanggungan". Pelaku-pelaku kewajiban belajar dan tata tertib tersebut lah yang dinamakan siswa. Ragam karakter siswa tidaklah sama. Mereka memiliki kemampuan dan kelemahan masing-masing. Ada beberapa dari mereka yang memiliki tingkat kesadaran dan kedewasaan sikap yang tinggi. Artinya, tanpa guru memberikan penjelasan panjang kali lebar tentang norma maka mereka sudah dapat memilah beberapa perkara baik dan buruk di dalam lingkungan masyarakat. Namun di luar dari itu tidak menutup kemungkinan beberapa di antara mereka masih membutuhkan contoh-contoh nyata yang realistis untuk dikatakan sebagai hal yang baik atau sebaliknya. Tentu beberapa contoh tersebut dapat dipaparkan salah satunya menggunakan metode studi kasus. Anak diajak untuk ikut menganalisis dalam hal ini misalnya apa yang melatarbelakangi seorang anak remaja dapat mengalami kehamilan yang tidak diinginkan sebelum waktunya. Bagaimana latar belakang kehidupan pribadinya di rumah, pendidikan orangtua, keadaan ekonomi, keadaan sosial, analisis permasalahan, diagnosis, penyelesaian masalah, tindakan sampai pada program tindak lanjut yang diperlukan sesuai kasus tersebut. Dengan demikian anak akan berada pada posisi ikut berfikir dan berargumen secara santun, realistis dan obyektif. Ketika anak ikut terlibat membaca fenomena kekinian secara peka dan dapat menganalisis secara dewasa, maka ia akan memahami apa itu perkara boleh dan tidak boleh versi masyarakat. Kalimat-kalimat protes yang semula sering ia sampaikan perlahan akan mulai berkurang tanpa harus seorang guru menyampaikan kalimat-kalimat larangan secara berulang. Karena jika itu terjadi maka anak bukannya akan taat terhadap kalimat instruktif guru namun justru sebaliknya. Ingat, ini adalah masa remaja. Dapat kita ketahui dari berbagai literatur dan penelitian yang mengungkap kelabilan emosi seorang remaja.
Itu merupakan catatan pribadi yang kini menjadi kesimpulan saya tentang hakikat sebuah proses. Perubahan dan pergantian yang menjadi keniscayaan tersendiri. Iya, justru saya sempat mengiyakan pendapat teman saya tentang perubahan. Ia mengatakan bahwa "perubahan itu adalah keniscayaan yang abadi". Terlalu banyak faktor yang dapat menjadi sebab musabab suatu perubahan pada diri seseorang. Apabila diperhatikan berdasarkan asal pengaruhnya, ada faktor internal dan juga eksternal. Kedua hal ini berlainan namun sangat mempengaruhi pada prosesnya. Oleh karena hal-hal eksternal lah semua hal yang ada pada diri individu dapat berubah pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini kita bicara soal siswa. Ia merupakan seorang anak yang memiliki kewajiban belajar di sekolah dengan jadwal yang sudah ditentukan beserta tata tertib yang wajib ditaati. Namanya juga kewajiban, jadi ketika tidak dilaksanakan maka akan memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang menjadi "tanggungan". Pelaku-pelaku kewajiban belajar dan tata tertib tersebut lah yang dinamakan siswa. Ragam karakter siswa tidaklah sama. Mereka memiliki kemampuan dan kelemahan masing-masing. Ada beberapa dari mereka yang memiliki tingkat kesadaran dan kedewasaan sikap yang tinggi. Artinya, tanpa guru memberikan penjelasan panjang kali lebar tentang norma maka mereka sudah dapat memilah beberapa perkara baik dan buruk di dalam lingkungan masyarakat. Namun di luar dari itu tidak menutup kemungkinan beberapa di antara mereka masih membutuhkan contoh-contoh nyata yang realistis untuk dikatakan sebagai hal yang baik atau sebaliknya. Tentu beberapa contoh tersebut dapat dipaparkan salah satunya menggunakan metode studi kasus. Anak diajak untuk ikut menganalisis dalam hal ini misalnya apa yang melatarbelakangi seorang anak remaja dapat mengalami kehamilan yang tidak diinginkan sebelum waktunya. Bagaimana latar belakang kehidupan pribadinya di rumah, pendidikan orangtua, keadaan ekonomi, keadaan sosial, analisis permasalahan, diagnosis, penyelesaian masalah, tindakan sampai pada program tindak lanjut yang diperlukan sesuai kasus tersebut. Dengan demikian anak akan berada pada posisi ikut berfikir dan berargumen secara santun, realistis dan obyektif. Ketika anak ikut terlibat membaca fenomena kekinian secara peka dan dapat menganalisis secara dewasa, maka ia akan memahami apa itu perkara boleh dan tidak boleh versi masyarakat. Kalimat-kalimat protes yang semula sering ia sampaikan perlahan akan mulai berkurang tanpa harus seorang guru menyampaikan kalimat-kalimat larangan secara berulang. Karena jika itu terjadi maka anak bukannya akan taat terhadap kalimat instruktif guru namun justru sebaliknya. Ingat, ini adalah masa remaja. Dapat kita ketahui dari berbagai literatur dan penelitian yang mengungkap kelabilan emosi seorang remaja.
Komentar
Posting Komentar