Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Hikmah

April 2018. Sembilan bulan terlewati. Yang berawal pasti akan berakhir. Kapan berakhir?, dengan cara apa berakhir?. Kemudian manusia dengan keterbatasannya nggak akan mampu memastikan hal yang akan terjadi setelah sesuatu berakhir. Orang bijak bilang itu namanya hikmah. Tapi sering-seringnya nggak lengkap. Jadi nggak tau, itu sebenernya Hikmah Nuraini atau Hikmah Santoso. Memprediksi? Mungkin bisa. Karna sampe sekarang masih dijual buku-buku Kumpulan Soal Prediksi UN dan Detik detiknya😄
Postingan terbaru

Balas Budi dan Jenang Candil

Memperoleh kebaikan dari seseorang yang sudah tulus pada kita berkali kali sebenarnya bisa membuat kita segan. Walaupun kita tau niat mereka memang tulus mengasihi kita. Jika dihitung dalam satuan rupiah mungkin nggak akan sanggup kita ganti. Baik itu karna keadaan maupun alasan lain. Untuk saat ini yang bisa ku lakukan hanya dengan perbuatan. Apapun yang masih bisa ku buat ya akan aku buat. Jenang candil misalnya. Karna ini buatan ku yang ke empat kalinya. Tiga kali kmaren jelas sukses😃

Perubahan.

Iya. Perubahan diperlukan demi ketahanan. Kalo kata tulisan temen di salah satu gambar postingan online shop nya; "Berubah atau musnah". Hihihi. Kira kira demikian perubahan yang sudah terjadi dalam kurang lebih satu tahun ini. Apalagi kalo dibandingkan dengan tujuh taun sebelumnya. Karna tadi liat di bawah foto kok ada tulisan "di blogger sejak 2010". Wkwkk. Aseli. Baca smua tulisan yang terposting di sini sejak tujuh taun lalu sampai dengan sekarang.. Sukses bikin senyum senyum sendiri. Ya malu, ya geli, ya merasa aneh, konyol dan satu; "aku ngomong apa sebenernya😅" di semua tulisan itu tu apa maksudnya. Parah. Pantesan temen KKN dulu suka nyumbang komentar perihal diksi. Aku respon cuma dengan cengar cengir. Yaeyalaah ya, aku bukan anak bahasa. Aku anak ibuk ayah ku. Maafkan aku yaa (baru nyadar sekarang). Kembali ke soal perubahan. Mungkin setelah ini akan ada pergeseran genre tulisan di blog ini. Dan.. I have edited my profile also😂 mulai dari deskr...

Aku Perempuan.

Aku perempuan. Sama seperti perempuan perempuan lain pada umumnya. Kalaupun berbeda, itu hanya tentang karakter biologis dan edukasi yang memelihara diri selama masa pertumbuhan. Aku perempuan. Sama seperti perempuan lainnya secara psikologis. Aku perempuan. Sensitif, emosional, feminim dan cantik secara relatif. Bukan kamu. Laki laki. Logis, lugas, maskulin dan tampan secara relatif. Jadi, tidak perlu memperlakukan aku sebagai laki laki. Terlebih mengada ada. Membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Hingga meniadakan segala sesuatu yang semula ada. Atau kamu akan menyesali sikap dan perbuatan mu itu. Tapi bagaimana lagi?. Tidak ada penyesalan di permulaan. Oiya, aku masih mempercayai peribahasa; mulut mu harimau mu. Setidaknya kamu adalah manusia yang punya akal dan naluri.

dari mu; Anak Kecil

Karna mu aku jadi betul-betul tertantang. Menyimak sketsa damai seperti yang ditawarkan oleh puntung rokok mu. Bicara dan didengarkan dengan ramah oleh (mungkin) makhluk-makhluk yang kau jumpai, pada tiap hisap puntung rokok mu. Belajar tentang arti melepaskan pada tiap hembus asap keputihan dari hidung yang keluar santai perlahan pasti bersama kepulan dari rongga mulut mu. Menunggu ramah pada setiap gumpalan tembakau yang terbungkus kertas berlabel bla bla bla itu dikikis api merah kebiruan yang malu tapi mau. Mungkin itu adalah salah satu gambaran nyata tentang makna melepaskan yang mudah untuk kau pelajari. Setidaknya cukup bersahabat dengan jiwa mu. Tidak seabstrak definisi ikhlas pada kamus-kamus Bahasa Indonesia tak bertuan di toko-toko yang semakin waktu semakin usang. Bukan pula serumit peryataan orang orang bermoral mulia sebagaimana kawan hidup di sekeliling mu selama ini. Para makhluk baik yang kadang-kadang jahat pada mu. Berlaku bohong. Mengaburkan jati diri kemuliaan me...

Nanti.

Belum sekarang waktu yang tepat. Masih ada setumpuk yang harus terselesaikan sampai akhir bulan Februari ini. Lihat saja nanti, kalau sudah tepat waktunya. Bisa-bisanya air itu datang dengan lancangnya mengguyur susunan batu kali kering; basah!. Seketika luruh bersama pasir.  Tunggu nanti. Tunggu semua sajak itu lagi.