Langsung ke konten utama

DISFUNGSI KELUARGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

DISFUNGSI KELUARGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

Mata Kuliah: Penulisan Karya Ilmiah
Dosen Pengampu: Dra. Sri Tutur Marthaningsih, M. Pd.






Disusun Oleh:
Nama : Masayu Ninda Arum T. F. N. P.
NIM : 09001053


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia di bumi ini pada umumnya berfitrah untuk melestarikan keturunan, mempunyai dan mewujudkan lingkungan kondusif yang tentram dan sejahtera. Secara umum lingkungan itu dinamakan keluarga.
Lingkungan keluarga ibarat organisasi yang di dalamnya terdapat sistem. Dalam sistem tersebut akan ada peraturan dan hukum yang disepakati demi mencapai tujuan bersama dalam rangka keutuhan keluarga. Adapun di dalam keluarga terdiri dari satu orang ayah sebagai pemimpin atau imam, satu orang ibu sebagai pendamping pemimpin keluarga; yaitu ayah. Ketika ayah tidak ada di rumah, maka ibu yang berhak dan wajib menggantikan posisi ayah sebagai pemimpin. Anak yang nantinya mungkin berjumlah lebih dari satu merupakan penerus darah daging ayah dan ibu.
Setiap anggota dalam keluarga memiliki tugas masing-masing yang harus dijalankan demi tercapainya tujuan bersama dalam keutuhan keluarga. Keselarasan tugas yang berjalan bersama dan beriringan ini tentunya akan memiliki pengaruh yang kuat terhadap keadaan emosi masing-masing.
Keharmonisan akan terwujud apabila tiap-tiap anggota keluarga memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan hak dan kewajibannya di dalam rumah. Hirarki kebutuhan yang salah satunya ialah membutuhkan cinta, kasih sayang dan rasa aman tidak dapat dijauhkan dari alasan seseorang dalam mewujudkan keinginannya memiliki keluarga harmonis.



B. Manfaat dan Tujuan
1. Sebagai mahasiswa yang nantinya pasti akan atau sudah berkeluarga dapat mengetahui dan memahami makna dari keluarga, khususnya hubungan antar anggota keluarga secara sehat
2. Sebagai mahasiswa calon konselor dapat mengetahui sejauh mana peran keluarga terhadap perkembangan kepribadian peserta didik
3. Dapat menjadi petunjuk agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
4. Dapat mengetahui perbandingan antara keluarga yang sehat/ harmonis dengan keluarga disfungsi

C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keluarga disfungsi?
2. Sejauh mana dampak keluarga disfungsi terhadap pembentukan kepribadian anak?
3. Upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka menangani anak yang korban keluarga disfungsi?








BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil dalam masyarakat. Kaluarga merupakan sistem karena di dalamnya setiap anggota keluarga saling berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain untuk suatu keutuhan. Sebagai sebuah sistem keluarga memiliki ciri-ciri salaing ketergantungan (interdependence), keutuhan (wholeness), tata cara dan peraturan diri (patterns and self regulation), serta keterbukaan (openness) (Addler & Rodman, 1991).
“Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di masyarakat mana pun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu” (Narwoko dan Suyanto, 2004).

B. Pengertian Keluarga Disfungsi
Sebagai sebuah sistem, keluarga dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga disfungsi. Hal ini tentu akan mempengaruhi keutuhan keluarga sebagai sebuah sistem. Disfungsi diartikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan normal sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi dapat diartikan sebagai sebuah sistem sosial terkecil dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya tidak atau telah gagal manjalankan fungsi-fungsi secara normal sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi; hubungan yang terjalin di dalamnya tidak berjalan dengan harmonis, seperti fungsi masing-masing anggota keluarga tidak jelas atau ikatan emosi antar anggota keluarga kurang terjalin dengan baik (Siswanto, 2007).

C. Fungsi-fungsi Keluarga
Beberapa fungsi keluarga adalah (Narwoko dan Suyanto, 2004):
1. Fungsi Pengaturan Keturunan
Dalam masyarakat orang telah terbiasa dengan fakta bahwa kebutuhan seks dapat dipuaskan tanpa adanya prekreasi (mendapatkan anak) dengan berbagai cara, misalnya kontrasepsi, abortus, dan teknik lainnya. Meskipun sebagian masyarakat tidak membatasi kehidupan seks pada situasi perkawinan, tetapi semua masyarakat setuju bahwa keluarga akan menjamin reproduksi. Karena fungsi reproduksi ini merupakan hakikat untuk kelangsungan hidup manusia dan sebagai dasar kehidupan sosial manusia dan bukan hanya sekadar kebutuhan biologis saja. Fungsi ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sosial, misalnya dapat melanjutkan keturunan, dapat mewariskan harta kekayaan, serta pemeliharaan pada hari tuanya. Pada umumnya masyarakat mengatakan bahwa perkawinan tanpa menghasilkan anak merupakan suatu kemalangan karena dapat menimbulkan hal-hal yang negatif.
2. Fungsi Sosialisasi atau Pendidikan
Fungsi ini untuk mendidik anak mulai dari awal sampai pertumbuhan anak hingga terbentuk kepribadian. Anak lahir tanpa bekal sosial, agar anak dapat berpartisipasi maka harus disosialisasi oleh orang tuanya tentang nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain, anak-anak harus belajar norma-norma mengenai apa yang layak dan tidak layak dalam masyarakat. Berdasarkan hal ini, maka anak-anak harus memperoleh standar tentang nilai-nilai apa yang diperbolehkan dan tidak, apa yang baik, yang indah, yang pantas dan sebagainya. Mereka harus dapat berkomunikasi dengan anggota masyarakat lainnya dengan menguasai sarana-sarananya.
Dalam keluarga, anak-anak mendapatkan segi-segi utama dari kepribadiannya, tingkah lakunya, budi pekertinya, sikapnya, dan reaksi emosionalnya. Karena itulah keluarga merupakan perantara antara masyarakat luas dan individu. Perlu diketahui bahwa kepribadian seseorang itu diletakkan pada waktu yang sangat muda dan yang berpengaruh besar terhadap kepribadian seseorang adalah keluarga, khususnya peran seorang ibu.
3. Fungsi Ekonomi atau Unit Produksi
Urusan-urusan pokok untuk mendapatkan suatu kehidupan dilaksanakan keluarga sebagai unit-unit produksi yang seringkali dengan mengadakan pembagian kerja di antara anggota-anggotanya.
Jadi, keluarga bertindak sebagai unit yang terkoordinir dalam produksi ekonomi. Ini dapat menimbulkan adanya industri-industri rumah dimana semua anggota keluarga terlibat di dalam kegiatan pekerjaan atau mata pencaharian yang sama. Dengan adanya fungsi ekonomi maka hubungan di antara anggota keluarga bukan hanya sekedar hubungan yang dilandasi kepentingan untuk melanjutkan keturunan, akan tetapi juga memandang keluarga sebagai sistem hubungan kerja. Suami tidak hanya sebagai kepala rumah tangga, tetapi juga sebagai kepala dalam bekerja. Jadi, hubungan suami-istri dan anak-anak dapat dipandang sebagai teman sekerja yang sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan dalam kerja sama. Fungsi ini jarang sekali terlihat pada keluarga di daerah perkotaan dan bahkan fungsi ini dapat dikatakan berkurang atau hilang sama sekali.
4. Fungsi Pelindung
Fungsi ini adalah melindungi seluruh anggota keluarga dari berbagai bahaya yang dialami oleh suatu keluarga. Dengan adanya negara, maka fungsi ini banyak diambil alih oleh instansi negara.
5. Fungsi Penentuan Status
Jika dalam masyarakat terdapat perbedaan status yang besar, maka keluarga akan mewariskan statusnya pada tiap-tiap anggota atau individu sehingga tiap-tiap anggota keluarga mempunyai hak-hak istimewa. Perubahan status ini biasanya melalui perkawinan. Hak-hak istimewa keluarga, misalnya menggunakan hak milik tertentu, dan lain sebagainya. Jadi, status dapat diperoleh melalui assign status maupun ascribed status. Assign Status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya. Sedangkan Ascribed Status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
6. Fungsi Pemeliharaan
Keluarga pada dasarnya berkewajiban untuk memelihara anggotanya yang sakit, menderita, dan tua. Fungsi pemeliharaan ini pada setiap masyarakat berbeda-beda, tetapi sebagian masyarakat membebani keluarga dengan pertanggungjawaban khusus terhadap anggotanya bila mereka tergantung pada masyarakat. Seiring dengan perkembangan masyarakat yang makin modern dan kompleks, sebagian dari pelaksanaan fungsi pemeliharaan ini mulai banyak diambil alih dan dilayani oleh lembaga-lembaga masyarakat, misalnya rumah sakit, rumah-rumah yang khusus melayani orang-orang jompo.
6. Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan kasih sayang atau rasa dicintai. Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa kenakalan yang serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang. Di sisi lain, ketiadaan afeksi juga akan menggerogoti kemampuan seorang bayi untuk bertahan hidup (Horton dan Hunt, 1987 dalam Narwoko dan Suyanto, 2004).
BAB III
PEMBAHASAN

A. Faktor Penyebab Keluarga Disfungsi
1. Kurangnya Persiapan antara Suami dan Istri Ketika Hendak Membina Rumah Tangga
Adanya pernikahan yang didorong oleh emosi hanya akan menimbulkan adanya disfungsi keluarga. Hal ini dapat terlihat dari suami/istri yang tidak dapat menerima kekurangan yang ada. Ketika nanti terjadi suatu kesalahpahaman, emosi masing-masing terlalu mudah meningkat hingga berujung pada perdebatan mempertahankan ego masing-masing. Perdebatan yang terlalu sering terjadi ini bahkan menyebabkan pertengkaran. Apabila pertengkaran yang sering terjadi ini pada suami dan istri yang belum mempunyai anak, tidak akan menjadi masalah yang berakibat pada orang lain. Namun, akan berdampak fatal apabila pertengkaran yang sering terjadi ini di hadapan anak secara langsung.
2. Salah Satu atau Kedua Orang tua Terlalu Sibuk
Target-target untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang membuat seseorang lalai akan kewajiban lain yang seharusnya dilaksanakan. Apabila salah satu diantara ayah/ibu yang terlalu divorsir menggunakan waktunya untuk bekerja, maka anak akan sangat kurang mendapatkan waktu senggang untuk berkumpul dengan kedua orang tua. Bahkan apabila kedua orang tua mampu untuk menyediakan pembantu rumah tangga, tidak menutup kemungkinan bagi anak untuk justru lebih dekat dengan pembantu rumah tangganya.


3. Komunikasi yang Tidak Efektif
Komunikasi di sini tidak semata-mata percakapan dengan bahasa biasa antara anggota keluarga. Apabila kedua orang tua di dalam rumah terlalu sering bertengkar di hadapan anak secara langsung, anak akan menumpuk rasa marah karena merasa tidak nyaman dengan suara-suara yang keras itu. Anak akan beranggapan bahwa dalam kehidupan sehari-hari berbicara dengan suara keras adalah hal biasa. Bahkan mungkin termasuk kata-kata yang sering digunakan merupakan kata-kata yang kasar dan terkesan tidak sopan bagi masyarakat pada umumnya. Nantinya ketika rasa marah ini memuncak, anak akan berusaha mencari berbagai cara yang dianggapnya dapat melampiaskan amarahnya. Anak akan berada pada posisi tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan salah. Nilai-nilai hidup bermasyarakat yang seharusnya dimiliki pun perlahan luntur karena tuntutan ego nya untuk melampiaskan amarah.
4. Ketidakmampuan Kedua Orang tua dalam Menyatukan Dua Budaya yang Berbeda
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa mampu menyesuaikan diri dan saling mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada perdebatan samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar, tidak terima akan kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud baik, namun bila yang ada hanya kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua.

B. Dampak-dampak Keluarga Disfungsi terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
1. Adanya Kebimbangan pada Anak dalam Menentukan Jati Diri
Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi anak. Namun apabila kedua orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi anak, maka pada diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus mengikuti yang mana.
Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama dalam suatu keluarga.
2. Depresi
Ayub Sani Ibrahim (2007:12) menyatakan menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri), depresi merupakan penyakit yang bagian-bagiannya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan gangguan alam perasaan, alam pikir dan tingkah laku motoriknya yang menurun (berkurang).
Pada keadaan depresi, anak akan merasa bahwa dirinya tidak hanya sedih, perasaannya menjadi tidak senang dan murung. Merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.
Depresi pada anak akan muncul dalam berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
a. Terlalu mudah menangis
b. Terlalu mudah tersinggung
c. Sulit tidur
d. Jam tidur berlebih
e. Sering membicarakan kesedihannya
f. Terlalu menutup diri, hingga sulit bergaul dengan teman
3. Kesulitan dalam Menyesuaikan Diri
Akibat dari sikap yang terlalu tertutup dan sangat sensitif, maka anak akan merasa nyaman dengan melakukan segala sesuatunya sendiri. Apabila ada penolakan dalam dirinya, anak akan cenderung memilih untuk diam dan tidak berdaya untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Baik dengan alasan merasa malu atau pun takut salah. Rasa takut salah akan muncul jika sejak kecil anak sudah terbiasa dipersalahkan orang tuanya. Segala sesuatu yang dilakukan selalu dianggap dan dikatakan salah. Anak akan merasa kesulitan menerima keberadaan orang lain di lingkungan baru. Sesuatu yang baru jika dirasa tidak sesuai dengan kemauannya maka anak akan lebih memilih untuk melakukan segala sesuatunya sendirian tanpa mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.
4. Munculnya Kenakalan pada Anak
Kenakalan merupakan segala sesuatu yang apabila dilakukan oleh anak dapat menimbulkan keresahan pada orang tua, cenderung merupakan perilaku yang mengganggu kenyamanan orang lain dan bertentangan dengan nilai-nilai baik dan benar.
Singgih D. Gunarsa (2004:23) menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:
b. Berbohong/ dusta
1) Cerita-cerita khayal
2) Bohong/ dusta sebagai hasil peniruan
3) Berbohong sebagai pertahanan diri
4) Berbohong untuk menarik perhatian
5) Berbohong untuk mengimbangi suatu kekurangan
c. Pergi tanpa izin/ kabur
d. Mencuri (bentuk kenakalan melanggar hak milik)

C. Upaya Menangani Anak yang Menjadi Korban Keluarga Disfungsi
1. Upaya Preventif
a. Terhadap Peserta didik
Konselor dapat sedini mungkin mengadakan pengisian cumulative record, sehingga secara mandiri peserta didik dapat mengenali keadaan keluarganya. Keadaan kedua orang tua, saudara kandung, anggota keluarga lain yang tinggal satu rumah dengannya. Pengenalan identitas diri dan keluarga sediri secara mandiri setidaknya sebagai upaya agar anak mampu mengetahui keadaan keluarganya, posisi diri sendiri dalam keluarga, potensi dan konsep diri yang dimilikinya.
b. Terhadap Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan pengisian angket orang tua. Di dalamnya akan terlihat sejauh mana orang tua memahami keadaan anaknya. Upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam rangka membimbing anak belajar di rumah. Apa saja harapan orang tua terhadap proses perkembangan kepribadian anak khususnya secara psikis (kognisi dan afeksi). Dari sini dapat diketahui sejak dini seberapa kondusif lingkungan keluarga dalam mendukung prestasi anak.
2. Upaya Kuratif
Terhadap Peserta didik dan Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan bimbingan/ konseling individual. Anak bermasalah (keluarga) cenderung introvert ketika diupayakan dengan pendekatan bimbingan kelompok. Perasaannya sangat sensitif dengan lingkungan sekitar, termasuk terhadap teman dan guru di sekolah.
Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu rumah dengan anak yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.




BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keharmonisan akan terwujud apabila tiap-tiap anggota keluarga memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan hak dan kewajibannya di dalam rumah. Hirarki kebutuhan yang salah satunya ialah membutuhkan cinta, kasih sayang dan rasa aman tidak dapat dijauhkan dari alasan seseorang dalam mewujudkan keinginannya memiliki keluarga harmonis.
Sebagai sebuah sistem, keluarga dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga disfungsi. Hal ini tentu akan mempengaruhi keutuhan keluarga sebagai sebuah sistem. Disfungsi diartikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan normal sebagaimana mestinya.
Dampak-dampak keluarga disfungsi terhadap pembentukan kepribadian anak, antara lain:
• Adanya kebimbangan pada anak dalam menentukan jati diri
• Kesulitan dalam menyesuaikan diri
• Depresi
• Munculnya kenakalan pada anak

B. Saran
1. Keluarga adalah lingkungan terdekat individu, merupakan tempat pertama untuk belajar mengenal identitas diri dan orang lain. Proses pengenalan ini akan berlangsung dengan baik apabila tiap-tiap anggota keluarga sadar akan tugasnya
2. Proses belajar ini tidak akan terlepas dari peran bahasa sebagai instrumen komunikasi, baik verbal maupun non verbal dan keluarga yang sehat tentu akan berkomunikasi dengan cara yang sehat pula (tidak mengutamakan emosi)
3. Anak merupakan anugerah yang berhak mendapat bimbingan melalui pendidikan yang diberikan kedua orang tua. Sudah sewajarnya jika kedua orang tua mengupayakan semaksimal mungkin terbentuknya kepribadian anak yang sehat, melalui sikap dan perilaku sehari-hari yang dapat dijadikan contoh sehingga anak tidak kehilangan jati dirinya
4. Seperti apapun permasalahan yang terjadi antara kedua orang tua, ketika terjadi pertengkaran hendaknya tidak dengan sengaja di hadapan anak secara langsung. Hal ini akan membuat anak merasa kehilangan rasa nyaman dan dilindungi










DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. (2004). Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: Gunung Mulia.

Ibrahim, Ayub Sani. (2007). Depresi Aku Ingin Mati (Sepi sendiri di tempat yang ramai). Jakarta: Dua As-As.

Siswanto. (2007). Kesehatan Mental (Konsep, Cakupan dan Perkembangannya). Yogyakarta: C.V. Andi.

Musnamar, Thohari dkk. (1992). Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta: UII Press.

__________(2008). Terapi Keluarga (Jiwa). www.informasi-kesehatan40.blogspot.com. Dikutip pada 17 Juli 2011.

Universitas Kristen Petra. (2008). Fungsi-fungsi Keluarga. www.diglib.petra.ac.id. Diakses pada 17 Juli 2011.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

milik ku

aku selalu menanti malam seperti ini malam mencekam yang selalu memberi aku ruang setidaknya untuk melihat sebuah pembuktian bahwa toleransi dan negosiasi sebenarnya selalu ada bahkan tidak hanya dua, tiga atau empat pilihan tak terbatas hanya saja mata ini kesulitan ketika harus memperhatikan seksama pada siang hari nyatanya ketika malam; ada sejuta pemandangan indah yang justru dapat aku nikmati tak seindah siang hari dengan secercah cahaya kuningnya matahari aku berada di dalam ruangan tidak luas; ukuran panjang dan lebarnya hanya cukup untuk menjejerkan lemari pakaian dua pintu, rak buku, dan dua meja belajar lipat aku ingin selalu mengabadikan momen pada setiap malam sesenyap ini selalu ada nuansa ketenangan yang tidak bisa terbeli dengan takaran perhiasan terlebih rupiah aku merasa dekat dengan kenangan dan mimpi tak ada satu pun yang boleh mengusik sunyi ku sunyi yang lengang seperti ini ia milik ku; tidak perlu kalian repot-repot memakasakan diri untuk bertanya...

Mahal

Ketika kau bertanya, hal apa yang paling berharga dalam keseharian ku.. maka akan ku jawab; malam. Malam adalah waktu terindah bagi ku yang tidak pernah dapat aku deskripsikan dalam sekian larik puisi. Semua puisi-puisi ku belum menjadi cukup untuk mensyukuri keberadaan malam yang Dia berikan. Malam seperti ini yang aku katakan mahal harganya. Duduk manis di depan laptop, membuka beberapa page kosong untuk menulis kata-kata menakjubkan, mendengarkan lantunan musik dan instrumen atau terkadang senyap, dan.. sendiri. Kesendirian. Ketenangan dalam kesendirian yang luar biasa indah tak terjamah oleh kata dan parafrasa. Aku tidak dapat mengizinkan siapapun dan apapun hadir mengusik duduk ku. Inilah hal terindah yang tak ternilai oleh rupiah sekalipun. Ketenangan. 08042014