Kembali ke tempat ini...aku sudah lupa kapan terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Menyentuh buku-buku usang berdebu. Mendatangi rak demi rak yang menjulang tinggi tujuh puluh lima sentimeter lebih tinggi daripada aku. Mencari sekian banyak sumber buku yang bisa ku buka kemudian ku ambil beberapa pernyataan penulis untuk ku jadikan landasan teori pada tugas akhir ku. Semua aku lakukan demi mencukupi sekian banyak syarat administrasi birokratif akademis pada sebuah pilihan. Memilih menjadi pembelajar yang menyandang status sebagai mahasiswa. Tidak boleh tidak, aku harus taat dengan aturan. Itu demi hasilnya kelak. Aaaarghh, semua perjuangan itu sudah usai. Aku sudah melewatinya. Itu sebab saat ini aku bisa kembali lagi ke sini dengan status yang berbeda. Aku sudah bukan lagi mahasiswa strata satu yang dipaksa untuk berpikir teoritis. Aku sudah menjadi sosok yang dekat dengan anak didik di sekolah. Aku sudah menjadi seorang Guru. Baiklah, ku sebutkan dengan lengkap. Guru Bimbingan dan Konseling pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan swasta di Yogyakarta. Itu sesuai dengan jurusan kuliah ku dulu; sangat sesuai. Orang-orang di sekitar ku menunjukkan wajah dan bahasa yang puas melihat usaha dan hasil yang ku dapatkan sekarang. Sangat puas. Tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan ketika mahasiswa baru lulus kemudian bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini dalam hitungan hari. Aku merupakan salah satu dari mereka yang beruntung. Itu kata mereka di sana. Mereka membuat pernyataan itu tanpa mengajak ku berdiskusi terlebih dahulu.
DISFUNGSI KELUARGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK Mata Kuliah: Penulisan Karya Ilmiah Dosen Pengampu: Dra. Sri Tutur Marthaningsih, M. Pd. Disusun Oleh: Nama : Masayu Ninda Arum T. F. N. P. NIM : 09001053 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2011 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia di bumi ini pada umumnya berfitrah untuk melestarikan keturunan, mempunyai dan mewujudkan lingkungan kondusif yang tentram dan sejahtera. Secara umum lingkungan itu dinamakan keluarga. Lingkungan keluarga ibarat organisasi yang di dalamnya terdapat sistem. Dalam sistem tersebut akan ada peraturan dan hukum yang disepakati demi mencapai tujuan bersama dalam rangka keutuhan keluarga. Adapun di dalam keluarga terdiri dari satu orang ayah sebagai pemimpin atau imam, satu orang ibu sebagai pendamping pemimpin keluarga; yaitu ayah. Ketika ayah tidak ada di rumah, maka ib...
Komentar
Posting Komentar