Langsung ke konten utama

Postingan

Sapa Senja

Gerobak roda dua mu sedang hendak istirahat rupanya Habis sudah tawaran mu hari ini Rupiah menanti untuk kau pilah-pilah tentu ibu jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan mu Senja sedang memeluk mu itu sebab gerobak mu minta berhenti Ia minta berdiskusi barang sejenak Salah satunya; dengan ku! 10022014

Sendiri (mu)

kau hanya bicara dengan mu diri mu sendiri kau hanya bertanya dengan mu diri mu sendiri kau hanya menjawab untuk mu diri mu sendiri semakin lebih dari satuan centimeter kau memberi jarak dengan mereka yang ingin bicara dengan mu kau semakin asyik dengan dunia mu sendiri tak berkutik kau terduduk kaku dalam diam tak bergeming kau tetap menikmati senyap larut sekujur tubuh kau basahi dengan gelembung pembicaraan mu dengan diri mu sendiri sejuta sapa seolah angin ribut bagi mu kau tetap merasa aman nyaman zona mu berkawan sunyi kau asyik menyanyi untuk diri mu sendiri mereka bukan siapa-siapa bagi mu tak ada guna barang sebait dibagi dan tak perlu menampung karna bagi mu kau hanya sendiri hanya sendiri hanya sendiri 18022014

Sekarang

Kembali ke tempat ini...aku sudah lupa kapan terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Menyentuh buku-buku usang berdebu. Mendatangi rak demi rak yang menjulang tinggi tujuh puluh lima sentimeter lebih tinggi daripada aku. Mencari sekian banyak sumber buku yang bisa ku buka kemudian ku ambil beberapa pernyataan penulis untuk ku jadikan landasan teori pada tugas akhir ku. Semua aku lakukan demi mencukupi sekian banyak syarat administrasi birokratif akademis pada sebuah pilihan. Memilih menjadi pembelajar yang menyandang status sebagai mahasiswa. Tidak boleh tidak, aku harus taat dengan aturan. Itu demi hasilnya kelak. Aaaarghh, semua perjuangan itu sudah usai. Aku sudah melewatinya. Itu sebab saat ini aku bisa kembali lagi ke sini dengan status yang berbeda. Aku sudah bukan lagi mahasiswa strata satu yang dipaksa untuk berpikir teoritis. Aku sudah menjadi sosok yang dekat dengan anak didik di sekolah. Aku sudah menjadi seorang Guru. Baiklah, ku sebutkan dengan lengkap. Guru Bimbingan dan ...

Basa Basi Basi

Sekolah. Ternyata bukan tempat statis seperti yang aku kira. Sekolah justru menampilkan aneka rupa wajah manusia yang selalu bisa berganti setiap waktunya. Termasuk satu orang yang saat ini berada di depan hidung ku. Rupanya ia belum paham betul perbedaan antara kalimat pembuka basa-basi dengan kalimat pembuka yang serius untuk mengawali hubungan baik versi manusia di muka bumi ini. Nyata-nyata ia sudah mengganggu orang lain. Mengapa perlu melontarkan kalimat pembuka "Apa yang sedang dikerjakan?, saya ingin pinjam laptop untuk mengetik ini dan ini. Tapi saya takut mengganggu". Agaknya orang yang satu ini memang sedang mengesampingkan ewuh yang secara lumrah sudah melekat pada orang-orang keturunan Pulanu Jawa. Oh.. bukan hanya itu. Orang-orang yang tidak terlahir sebagai jawa namun nunut hidup di jawa, kiranya ikut menyerupai mereka berikut penampilan yang nJawani ; seperti orang usia separuh abad di hadapan ku ini. Ia melupakan definisi kalimat retoris, justru dipakainya s...

milik ku

aku selalu menanti malam seperti ini malam mencekam yang selalu memberi aku ruang setidaknya untuk melihat sebuah pembuktian bahwa toleransi dan negosiasi sebenarnya selalu ada bahkan tidak hanya dua, tiga atau empat pilihan tak terbatas hanya saja mata ini kesulitan ketika harus memperhatikan seksama pada siang hari nyatanya ketika malam; ada sejuta pemandangan indah yang justru dapat aku nikmati tak seindah siang hari dengan secercah cahaya kuningnya matahari aku berada di dalam ruangan tidak luas; ukuran panjang dan lebarnya hanya cukup untuk menjejerkan lemari pakaian dua pintu, rak buku, dan dua meja belajar lipat aku ingin selalu mengabadikan momen pada setiap malam sesenyap ini selalu ada nuansa ketenangan yang tidak bisa terbeli dengan takaran perhiasan terlebih rupiah aku merasa dekat dengan kenangan dan mimpi tak ada satu pun yang boleh mengusik sunyi ku sunyi yang lengang seperti ini ia milik ku; tidak perlu kalian repot-repot memakasakan diri untuk bertanya...

Kelebat

aku ingin menerjemahkan diam mu aku ingin mengartikan beberapa kelebat bahasa mata mu aku ingin mendefinisikan kalimat pembuka mu boleh duduk walau sejenak di sini di samping kanan ku nyanyikan syair sesuka mu agar aku tau betul apa maksud diam mu dan bagaimana definisi pernyataan mu 14022014

Pasti

Menyimak gemericik Turun hapus dahaga tanah Menghembus nafas kesadaran Tak satu pun mampu menawar Mereka akan tetap menghidupkan tanah Tentang kepastian; begitulah kira-kira Kusumanegara 10022014