Langsung ke konten utama

Aroma

Kamu tau?
Kemungkinan terbesar yang sedang menjadi praduga ku sementara ini adalah; kita saling bertanya. Iya, kita saling bertanya namun di tempat yang berbeda. Kita tetap terduduk dalam diam kita masing-masing. Kita saling berhati-hati, seperti kata mu; "hati-hati". Sama. Aku juga membalas kata-kata mu dengan secuil kata repetisi itu; "hati-hati". Kita saling berhati-hati rupanya. Namun sayang; aku mencium aroma tajam dari pernyataan sikap mu. Aku tidak sedang mencuri. Justru aku tidak menyengaja. Aku juga tidak bemaksud memancing. Aku tidak mau berperan sebagai pemancing. Aku sudah berlaku adil terhadap logika ku. Aku berusaha permisi dengan logika ku. Itu karena aku tidak mau berada di posisi bodoh. Aku perempuan. Sadar atas kekurangan seorang perempuan yang cenderung emosional, maka aku tidak rela menambah dampak dari kondisi emosional itu. Aku tidak mau bodoh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian) Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala. Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti...

Bicara!

Biarkan malam bicara tentang kerumunan di jalan yang tak henti memperbincangkan tentang pepohonan menyibak kilau lampu mesin kendaraan dan gedung gedung yang sibuk juga keengganan tenda untuk berbinar padahal semua tetap saja; lewat dan berlalu sayang; malam masih saja malu Mentri Supeno, Jogja