Langsung ke konten utama

Postingan

Busuk

Busuk Satu kata untuk menggambarkan mu; NILAI. Kau sama busuknya dengan tempe yang dianggap sedap oleh sebagian masyarakat. Tempe busuk yang busuk namun tersaji dalam campuran tumis- Ca Kangkung. Orang-orang menganggap tumisan kangkung akan lebih sedap jika diberi campuran tempe busuk seperti mu. NILAI. Kau ditawar-tawar oleh mereka yang paham tentang moral. Kau menjadi bahan iming-iming terhadap mereka yang haus oleh hadir mu. Bagaimana tidak, dengan memiliki mu maka casing mereka akan lebih baik di hadapan yang lain. Mereka akan tampak anggun dengan balutan sebuah NILAI. Aktivitas moral seolah lebih cantik ketika dikemas bersama simpul pita sebuah NILAI. Padahal, ia datang bukan dari yang Maha. Bisa saja mereka menerka-nerka mereka untuk sebuah kepantasan label NILAI. Oh, sungguh gaduhnya tempat ini. Tempat yang katanya aku dan mereka bertempat di lingkungan yang berkemajuan, terpelajar karna belajar, terdidik oleh sebuah proses pembelajaran dan melahap berbagai NILAI-NILAI keagun...

Mimpi?

tidak, tidak, bukan, bukan, tidak dan bukan mimpi namun tiba-tiba saja ingatan-ingatan pada tahun-tahun sebelumnya muncul bukan cuma itu bertahun-tahun lamanya; ber- rim-rim kertas HVS A4 dan F4 terbeli mesin fotokopi yang sabar tinta pena tergores energi waktu pikiran dan... uang! sekian tahun seolah baru saja bangun dari tidur lelap melenakan MIMPI?

Berpikirlah!

Mendadak nyinyir, mendengar opini idealis dari teman ketika bicara tentang pernikahan usia muda. Pernikahan menyempurnakan separuh agama. Pernikahan membuka pintu rejeki. Pernikahan akan menyelamatkan diri. Pernikahan akan memudahkan segala urusan. Pernikahan akan menjadi segala-galanya. Dan saya adalah orang pertama yang akan meminta kepada mereka (yang ceramah di hadapan saya tentang hal tersebut) untuk berpikir dua kali sebelum bicara di hadapan saya. Bahkan mungkin berpikirlah tiga kali, empat kali, lima kali, kalau perlu seribu kali!.