Langsung ke konten utama

datar

tidak tau apa yang terjadi pada hati dan fikiran ini
sebagai manusia yang mempunyai hati untuk bernurani
mempunyai akal untuk memikirkan sesuatu hal itu; apakah hendak dilakukan atau kah tidak
semuanya benar-benar seperti kereta api dengan jumlah puluhan gerbong yang ternyata
sekedar kibasan angin dalam durasi satuan sekon
ini tentang kematian
hembusan nafas terakhir dari seorang manusia
dia bukan siapa-siapa ku
hanya saja dia sempat menjadi seseorang yang berperan menjadi manusia yang
bersikap baik terhadap ku
sangat baik
satu keanehan yang menimbulkan pertanyaan baru;
mengapa kabar kematian ini ku sikapi dengan respon datar?
semoga aku bukan manusia yang keji;
terjerembab dalam lahan cekung tertutup
dedaunan kering semak belukar


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian) Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala. Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti...

Bicara!

Biarkan malam bicara tentang kerumunan di jalan yang tak henti memperbincangkan tentang pepohonan menyibak kilau lampu mesin kendaraan dan gedung gedung yang sibuk juga keengganan tenda untuk berbinar padahal semua tetap saja; lewat dan berlalu sayang; malam masih saja malu Mentri Supeno, Jogja