KEPRIBADIAN SENSITIF
Mata Kuliah: Psikologi Kepribadian II
Dosen Pengampu: Dra. Alif Muarifah, S. Psi., M. Si.
Disusun Oleh:
Masayu Ninda Arum 09001053
Triyani 09001056
Rasfiati 09001067
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………..
B. Manfaat …………………………………………………………….
C. Tujuan ………………………………………………………………
BAB II: LANDASAN TEORI
BAB III: PEMBAHASAN
BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah menentukan akhir dari segala bentuk usaha manusia. Berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah dengan judul “Kepribadian Sensitif”.
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak terlepas dari hambatan dan kesulitan, namun berkat dorongan dan arahan serta bimbinngan baik langsung maupun tidak langsung telah menciptakan kekuatan dan kekompakan tersendiri bagi kami. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Hj. Alif Mu’arifah, S. Psi, M. Si., dan Ibu Tri Sutanti, S. Pd. selaku dosen pengampu yang telah memberikan dukungan, petunjuk- petunjuk dan motivasi kepada kami, demi penyelesaian makalah ini dengan baik.
Sadar akan fitrah manusia sebagai insan Tuhan, kami menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan kami pada saat penyusunan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan. Kami berharap semoga karya yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Penyusun
Yogyakarta, 4 Juli 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kedudukan manusia hidup di dunia ini tidak dapat terlepas dari kodratnya yang paling mendasar, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Setiap diri pribadi manusia mempunyai satu keunikan tersendiri yang menarik untuk diketahui. Karena dengan demikian akan terjadi berbagai perpaduan kepribadian ketika manusia dihadapkan dengan lingkungan sekitarnya, dengan kata lain lingkungan sosial. Ragam kepribadian tersebut tidak dapat kita salahkan ketika kita merasa sulit menyesuaikan diri. Bisa jadi justru kurang maksimalnya kita untuk bisa menempatkan diri dengan lingkungan. Keberagaman kepribadian setiap individu tersebut, akan menuntut kita untuk bisa mengkondisikan diri dengan sebaik mungkin, serta bisa menempatkan diri pada posisi yang benar, yang nantinya akan terus berhubungan dengan banyak orang hingga terwujudnya keserasian, ketentraman, dan keharmonisan dalam hubungan tersebut.
Dengan mengetahui berbagai jenis kepribadian, kita dapat berupaya semaksimal mungkin untuk mengetahui setiap ciri-ciri yang ada. Dengan demikian kita akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.
Tidak seorangpun yang mampu mengenali kepribadian yang dimiliki orang lain hingga detail, karena kepribadian yang dimiliki oleh setiap orang adalah beragam dan berkombinasi. Namun demikian ada ciri-ciri yang dominan dan mudah untuk dikenali, seperti kepribadian yang emosional dan arogan, atau kepribadian yang lemah lembut dan sabar. Dengan kata lain sifat ataupun unsur-unsur inilah yang nantinya membentuk pribadi seseorang menjadi dominan dan mudah dikenali secara kasat mata.
B. Manfaat dan Tujuan
1. Dapat memberikan gambaran informasi tentang bagaimana kriteria seseorang yang memiliki kepribadian sensitif
2. Dapat mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menghadapi seseorang dengan kepribadian sensitif, khususnya terhadap peserta didik di sekolah
3. Sebagai mahasiswa program studi bimbingan dan konseling, perlu untuk mengetahui berbagai perbedaan individu dalam hal ini kepribadian yang sensitif
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri seseorang dengan kepribadian sensitif?
2. Upaya apa saja yang perlu diperhatikan oleh guru/ konselor ketika menghadapi peserta didik dengan kepribadian sensitif?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kepribadian Sensitif
1. Pengertian Kepribadian Sensitif
Kepribadian yang sensitif (peka) adalah orang yang mampu mengenali serta menyadari diri sendiri, menyadari orang lain dan lingkungan di sekelilingnya. Seseorang yang berkepribadian sensitif adalah orang yang suka melakukan introspeksi diri, sangat peka terhadap suasana jiwanya dan saat- saatnya sendiri, perasaan dan pikirannya. Tapi juga mudah merasakan suasana jiwa, perasaan dan pikiran orang lain, dan pada waktu yang sama dia bersifat ingin tahu dan sangat tajam mengamati segalanya yang terjadi di dunia sekitarnya (Gregory G. Young, 2009)
2. Perasaan, Emosi, Intuisi, Insting
a. Perasaan
1) Menurut Abu Ahmadi (1983) perasaan ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif.
Menurut Carl Gustav Jung (dalam Alwisol, 2009) perasaan adalah fungsi evaluasi, menerima atau menolak ide dan objek berdasarkan apakah mereka itu membangkitkan perasaan positif atau negatif, memberi pengalaman subyektif manusia seperti; kenikmatan, rasa sakit, marah, takut, sedih, gembira dan cinta.
2) Kartini Kartono (1997) berpendapat bahwa perasaan memiliki kegunaan antara lain: Memberikan pengaruh yang besar sekali kepada setiap perbuatan dan kemauan. Sebab emosi ini memberikan sumbangan positif kepada rasa kebahagiaan, atau justru kebalikannya memberikan sumbangan negatif dan kesenduan di hati. Lagi pula, perasaan- perasaan itu erat terjalin dengan segenap unsur kepribadian, dan memberikan warna tertentu pada stemming atau suasana hati. Karena itu pendidikan perasaan penting sekali bagi perkembangan dan pemerkayaan kepribadian.
b. Emosi
1) Kartini Kartono (1997) berpendapat bahwa emosi adalah getaran jiwa atau keharuan.
2) James-Lange (dalam Alif Mu’arifah, 2009) berpendapat bahwa emosi adalah respon dari tubuh manusia.
Dengan kata lain emosi dapat mengaktifkan dan mengarahkan perilaku dengan cara yang sama dengan motif biologis dan psikologis serta emosi dapat menyertai perilaku termotivasi dan juga menjadi tujuan.
c. Intuisi
Menurut Abu Ahmadi (1983) intuisi adalah melihat dengan jiwa atau melihat sedalam- dalamnya.
d. Insting
1) Menurut Sigmund Freud (dalam Alwisol, 2009) insting adalah perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut pada pemuasan. Misalnya insting lapar, berasal dari kebutuhan tubuh yang kekurangan nutrisi. Adapun insting ini terbagi menjadi dua, yaitu: eros dan thanatos.
2) Kartini Kartono (1997) nafsu merupakan kecenderungan yang kuat, hebat sekali, sehingga bisa mengganggu keseimbangan fisik, nafsu menyingkirkan pertimbangan akal dan peringatan hati nurani, dan menyingkirkan semua bentuk hasrat lainnya. Contoh: nafsu berjudi, nafsu minum-minuman keras, nafsu membunuh, nafsu memiliki, nafsu berkuasa, dan lain- lain.
3. Pembagian Kepribadian Sensitif
Gregory G. Young (2010) berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kepribadian sensitif terdiri dari dua macam:
1. Sensitif yang Mengarah Pada Perkembangan (Positif/ Progres)
• Jujur
• Ramah
• Menghargai perasaan orang lain (empati)
• Rendah hati (kemampuan yang bersifat produktif menjadi terpendam)
• Objektif terhadap kritik
2. Sensitif yang Mengarah Pada (Negatif/ Regres)
• Karena terlampau rendah hati, kemampuan- kemampuan yang produktif pada diri individu menjadi terpendam
• Malu terhadap pujian, sekali pujian membuat merasa melambung
4. Ciri- ciri Kepribadian Sensitif
Menurut Gregory G. Young (2010) ciri- ciri kepribadian sensitif terdiri dari:
a. Selalu membutuhkan waktu untuk sendiri
b. Sangat teliti kadang-kadang sampai pada titik perfeksionis
c. Memiliki kehidupan dan batin yang kompleks
d. Mengalami tingkat kecemasan yang lebih besar
e. Memiliki kesadaran tinggi pada kondisi lingkungan di sekitarnya.
f. Dapat menjadi sangat emosi dan menghindar sesaat untuk mencari ketenangan dan kenyamanan.
g. Sering merasa terdorong untuk mengatur banyak hal termasuk pikiran.
h. Sangat mengapresiasi dan menikmati hal yang sederhana dan bisa dengan mudah emosi ketika melihat kekacauan atau sedang stress.
i. Tidak merasa nyaman ketika banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
j. Memiliki intuisi yang tinggi
k. Bisa dengan mudah terbawa perasaan dan merasa khawatir.
l. Sulit tidur.
m. Kemungkinan memiliki perasaan yang sensitif dalam memandang rasa sakit.
n. Tidak suka keramaian.
o. Sering menghindari tontonan yang berisi kekerasan.
p. Sangat mengapresiasi alam, musik dan seni.
5. Faktor-faktor Penyebab Kepribadian Sensitif
Alexander dalam Umar Tirtarahardja (2005) berpendapat bahwa ada tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian seseorang yakni:
a. Faktor hereditas/ gen / bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor biologis yang diturunkan melalui pewarisan genetik dari orangtua. Pewarisan genetik ini dimulai pada saat terjadinya pembuahan yaitu ketika sel reproduksi perempuan yang disebut ovum dibuahi oleh sel reproduksi laki-laki yang disebut spermatozoan. Hal ini terjadi kira-kira 280 hari sebelum lahir. Dalam masing-masing sel reproduksi terdapat 23 pasang kromosom. Kromosom adalah partikel seperti benang yang masing-masing didalamnya terdapat untaian partikel yang sangat kecil, yang disebut Gen. Gen inilah pembawa ciri bawaan, yang diwariskan orangtua kepada keturunannya (Hurlock:1995)
Dengan kata lain, ketika orangtua memiliki kepribadian yang sensitif sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kepribadian.
b. Faktor Lingkungan
• Keluarga
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang digunakan untuk berhubungan dengan anak-anak. Berkaitan dengan pola asuh ini terdapat tiga macam pola asuh orang tua,yaitu: pola asuh otoriter, permisif, autoritatif.
Keluarga, merupakan pendidik kodrati yang dapat menjadi pusat pertama seorang anak dalam berkembang. Demikian dapat dikatakan bahwa, segala bentuk sikap, prilaku serta pendidikan yang ditunjukan orangtua terhadap anaknya sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadiannya.
• Sekolah
Menurut Umar Tirtarahardja & La Sulo (2005) bahwa pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
Dalam posisi manusia sebagai makhluk serba terhubung, pembentukan pribadi meliputi pengembangan penyesuaian diri terhadap lingkungan, terhadap diri sendiri, dan terhadap Tuhan.
Menurut John Locke dalam Prasetya (1997: 188), berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini sebagai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabularasa) yang belum ada tulisan di atasnya sehingga aliran ini disebut juga dengan nama aliran tabularasa. Menurut teori ini bahwa kepribadian didasarkan pada lingkungan pendidikan yang didapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata-mata bergantung kepada pendidikan.
• Masyarakat
Menurut John Locke dalam Umar Tirtarahardja (2005: 194), bahwa anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.
B. Teori Kepribadian
Beberapa pendapat mengenai kepribadian antara lain:
1. Jung (Carl Gustav Jung)
Kepribadian adalah mencakup keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkah laku, serta kesadaran dan ketidaksadaran.
a. Menurut Jung dalam Sumadi Suryabrata (2008), bahwa sikap jiwa introvert dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutaama tertuju ke dalam pikiran, perasaan serta tindakan- tindakannya terutama ditentukan oleh faktor- faktor subyektif. Penyesuaiannya dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain. Penyesuaian dengan batinnya sendiribaik. Bahaya tipe introvert ini adalah kalau jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh, sehingga orang lepas dari dunia obyektifnya.
b. Menurut Jung dalam Alwisol (2009) terdapat gabungan antara sikap dan fungsi untuk mendeskripsikan tipe kepribadian manusia. Dua diantaranya yaitu;
Introversi-perasaan: orang yang mengalami perasan emosional yang kuat tetapi menyembunyikan perasaan itu. Orang dengan katagori ini memiliki sifat pendiam, kekanak- kanakan, tidak acuh.
Ekstroversi perasaan: orang yang perasaannya mudah berubah begitu situasinya berubah. Emosional dan penuh perasaan tetapi juga senang bergaul dan pamer.
2. Hippocrates dan Gallenus
Pendapat Hippocrates dan Gallenus dalam Sumadi Suryabrata (2008: 12), bahwa sifat- sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat daripada dominannya salah satu cairan badaniah itu oleh Galenus disebut sebagai temperamen. Adapun salah satunya yaitu tipe melanchole (melankolis) dengan ciri- ciri mudah kecewa, daya juang kecil, muram, pesimistis.
3. Aristoteles
Menurut Aristoteles (dalam Dipl, 2000) manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti kemampuan-kemampuan vegetatif; makan, berkembangbiak; kemampuan sensitif: bergerak mengamat- amati, bernafsu dan berperasaan; dan kemampuan intelektif: berkemauan dan berkecerdasan.
Dengan demikian Aristoteles berpendapat bahwa kemampuan sensitif pada manusia terdiri dari;
a. Kemampuan mengamati
b. Kemampuan perasaan
c. Kemampuan bernafsu
Kemampuan Sensitif: 1. Mengamati 2. Bernafsu 3. Berperasaan
Abu Ahmadi (1983) berpendapat bahwa pengamatan ialah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perangsang.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kepribadian sensitif merupakan segala bentuk gejala dan sikap/ perilaku yang ada pada diri individu, cenderung nampak dan dapat diamati, yang erat kaitannya dengan segala aspek emosi dan perasaan seseorang dengan adanya berbagai faktor penyebab hingga muncul dua arah (positif dan negatif) karena adanya faktor kebiasaan.
B. Faktor Penyebab
Faktor penyebab terbentuknya kepribadian sensitif antara lain: faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Gen/ bawaan
2. Faktor Eksternal
Pola asuh orang tua (keluarga)
Lingkungan sekolah
Lingkungan masyarakat
C. Ciri- ciri Kepribadian Sensitif
f. Dapat menjadi sangat emosi dan menghindar sesaat untuk mencari ketenangan dan kenyamanan.
Apabila orang dengan pribadi sensitif ini merasakan ketidaknyamanan dalam hidupnya maka orang sensitif akan menjadi orang yang mudah marah, tidak sabar, emosional, mempunyai hati yang keras, perasaannya kering, keras kepala, mudah meledakkan amarahnya karena hal yang sepele. Sikap kesensitivitasannya muncul tanpa dikehendaki, karena sensitif bersambung dengan aliran emosi yang mengeluarkan cairan saraf yang berada di otak bagian tengah. Lalu manakala otak menangkap pengaruh tertentu, maka pengaruhnya itu berjalan di dalam tubuh melalui aliran emosi dengan cara yang tidak dapat dikendalikan melalui gerakan yang cepat atau melalui perasaan. Dalam realitasnya, sensitif dapat dikategorikan sebagai sebuah ungkapan perasaan. Untuk menghadapi hal itu, kepribadian ini lebih suka menghindar dari orang lain untuk mencari ketenangan dan menstabilkan emosinya karena kepribadian ini termasuk dalam kategori introvert sehingga dia akan lebih nyaman ketika sendiri dibandingkan berhadapan dengan orang lain disaat kegelisahan hatinya.
g. Sering merasa terdorong untuk mengatur banyak hal termasuk pikiran.
Kepribadian sensitif bukan saja pengamat yang tajam tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka dan peka terhadap orang lain, tetapi mereka juga sangat cakap dalam membuat rencana dan mengorganisasi, mengatur, dan mengintegrasikan berbagai unsur dan kesempatan yang ada dalam kekuasaan mereka, dalam lingkungan mereka. Disamping itu mereka juga mampu mengatur pikran mereka. Dengan pengoptimalan pikiran, kita dapat mengendalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang kita inginkan. Dengan pikiran kita dapat mengubah perasaan sedih menjadi perasaan senang, takut menjadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis menjadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Sehingga akan membuahkan hasil-hasil dan tujuan yang ingin mereka capai biasanya tinggi dan mereka kreatif dalam mengejar cita-cita mereka.
h. Sangat mengapresiasi dan menikmati hal yang sederhana dan bisa dengan mudah emosi ketika melihat kekacauan atau sedang stres.
Kepribadian yang peka ini pada umumnya tidak menyukai kemewahan dan keramaian. Sebenarnya dia tidak tertarik pada hal-hal yang seperti itu. Kepribadian ini lebih menyukai dan menikmati hal yang sederhana dalam hidupnya, sederhana tetapi mampu menunjukkan nilai yang baik. Ketika kepribadian ini melihat dan mengalami kekacauan dia akan cenderung emosional, karena biasanya pada saat merespons realita yang tengah dihadapi, pikirannya tidak mengolah kembali fakta-fakta yang terekam di otak, akan tetapi langsung memasukkannya ke dalam “hati” apa adanya. Ia mengolah informasi dengan perasaannya.
i. Tidak merasa nyaman ketika banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
Orang dengan pribadi sensitif adalah pencipta perdamaian, pembuat perdamaian, dan pemelihara perdamaian. Dia menghendaki perdamaian itu bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Dia cinta damai, oleh karena itu dia tidak bisa hidup di tengah-tengah kekacauan dan akan sangat merasa tidak nyaman bila terdapat hal yang tidak dapat dikendalikan dalam hidupnya yang dapat mengusik ketentraman hatinya, karena kepribadian sensitif ini membutuhkan kehidupan yang tentram, aman, dan damai dimanapun mereka berada dan apapun yang dilakukannya.
j. Memiliki intuisi yang tinggi
Seperti kita ketahui semua orang sebetulnya memiliki intuisi tetapi khusus kepribadian ini mempunyai intuisi yang luar biasa tajam di atas kemampuan orang kebanyakan. Mereka demikian peka seperti halnya anak jenius mempunyai kepintaran di atas rata-rata.
k. Bisa dengan mudah terbawa perasaan dan merasa khawatir
Sebagai contoh ketika seseorang dengan kepribadian sensitif melakukan kesalahan, dia akan merasa khawatir ketika ada orang lain yang sempat dikecewakan. Rasa empati yang dimilikinya mengarahkan dia untuk tidak mudah membuat orang lain tersakiti. Dengan demikian dia akan memperlakukan orang lain sama seperti keinginannya diperlakukan oleh orang lain.
l. Sulit tidur
Karena sangat mudah merasa cemas akan sesuatu yang dirasa kurang tepat, hal ini mempengaruhi fikirannya sehingga tidak ada rasa tenang. Fikirannya yang berlebihan ini berpengaruh sampai sulit untuk bisa tidur.
m. Kemungkinan memiliki perasaan yang sensitif dalam memandang rasa sakit.
n. Tidak suka keramaian
Karena kepekaan yang dirasa akan keadaan lingkungan sekitar, seseorang dengan kepribadian sensitif cenderung menyukai sesuatu yang dapat membuat dirinya tenang. Keadaan yang tenang ini diyakininya dapat membuat suasana damai dan tentram. Jauh dari hal-hal yang dapat membuat dia merasa tidak tepat/ sesuai.
o. Sering menghindari tontonan yang berisi kekerasan
Seseorang dengan kepribadian ini sangat mengutamkan perdamaian. Seperti apapuu keadaannya, ia mengusahakan akan mewujudkan suasana yang damai. Maka dari itu, dia akan menghindari segala sesuatu yang bersifat permusuhan, apalagi perkelahian sampai pada kekerasan.
p. Sangat mengapresiasi alam, musik dan seni.
D. Upaya yang Perlu Diperhatikan Ketika Menghadapi Anak yang Sensitif
Kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa anak yang sensitif, antara lain memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Rentan, sering mendramatisir kejadian dan sangat perasa.
2. Mereka sangat sadar dan peka akan kebutuhannya, keinginannya dan harapannya untuk dihargai oleh orang di sekitarnya.
3. Ciri khas anak ini adalah mengeluh, membutuhkan waktu yang panjang untuk mengerjakan satu hal (tidak dapat dipaksa).
4. Anak-anak ini ingin mengetahui bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaannya (menurut versi anak) dan mereka ingin pendidik juga merasakan perasaan yang sama.
Tipe ini sebenarnya hampir mirip dengan tipe pemalu, dan memiliki sifat peka terhadap situasi. Beberapa anak bahkan terlihat seperti orang dewasa. Perasaannya halus dan memiliki sifat mau mengalah. Tetapi cenderung menarik diri dan menjadi rendah diri. Padahal anak seperti ini justru memiliki bakat yang luar biasa dalam menganalisa sesuatu. Menghadapi anak seperti ini harus sabar dan pelan-pelan. Memberinya pengertian dengan cara yang halus akan sangat membantu.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepribadian sensitif merupakan segala bentuk gejala dan sikap/ perilaku yang ada pada diri individu, cenderung nampak dan dapat diamati, yang erat kaitannya dengan segala aspek emosi dan perasaan seseorang dengan adanya berbagai faktor penyebab hingga muncul dua arah (positif dan negatif) karena adanya faktor kebiasaan.
Faktor penyebab terbentuknya kepribadian sensitif antara lain: faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Gen/ bawaan
2. Faktor Eksternal
Pola asuh orang tua (keluarga)
Lingkungan sekolah
Lingkungan masyarakat
B. Saran
Peserta didik dengan tipe ini sebenarnya hampir mirip dengan tipe pemalu, dan memiliki sifat peka terhadap situasi. Beberapa peserta didik bahkan terlihat seperti orang dewasa. Perasaannya halus dan memiliki sifat mau mengalah. Tetapi cenderung menarik diri dan menjadi rendah diri. Padahal peserta didik seperti ini justru memiliki bakat yang luar biasa dalam menganalisa sesuatu. Menghadapi peserta didik seperti ini harus sabar dan pelan-pelan. Memberinya pengertian dengan cara yang halus akan sangat membantu
DAFTAR PUSTAKA
Suryabrata, Sumadi. (1983). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Dipl, Gerungan. (2000). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Kartono, Kartini. (1997). Patologi Sosial 3 Gangguan Gangguan Kejiwaan. Jakarta: CV. Rajawali.
Sobur, Alex. (2009). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Ahmadi, Abu. (1983). Psikologi Umum. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Young, Gregory. (2009). Membaca Kepribadian.
Tirtarahardja, Umar dkk. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Mata Kuliah: Psikologi Kepribadian II
Dosen Pengampu: Dra. Alif Muarifah, S. Psi., M. Si.
Disusun Oleh:
Masayu Ninda Arum 09001053
Triyani 09001056
Rasfiati 09001067
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………..
B. Manfaat …………………………………………………………….
C. Tujuan ………………………………………………………………
BAB II: LANDASAN TEORI
BAB III: PEMBAHASAN
BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah menentukan akhir dari segala bentuk usaha manusia. Berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah dengan judul “Kepribadian Sensitif”.
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak terlepas dari hambatan dan kesulitan, namun berkat dorongan dan arahan serta bimbinngan baik langsung maupun tidak langsung telah menciptakan kekuatan dan kekompakan tersendiri bagi kami. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Hj. Alif Mu’arifah, S. Psi, M. Si., dan Ibu Tri Sutanti, S. Pd. selaku dosen pengampu yang telah memberikan dukungan, petunjuk- petunjuk dan motivasi kepada kami, demi penyelesaian makalah ini dengan baik.
Sadar akan fitrah manusia sebagai insan Tuhan, kami menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan kami pada saat penyusunan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan. Kami berharap semoga karya yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Penyusun
Yogyakarta, 4 Juli 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kedudukan manusia hidup di dunia ini tidak dapat terlepas dari kodratnya yang paling mendasar, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Setiap diri pribadi manusia mempunyai satu keunikan tersendiri yang menarik untuk diketahui. Karena dengan demikian akan terjadi berbagai perpaduan kepribadian ketika manusia dihadapkan dengan lingkungan sekitarnya, dengan kata lain lingkungan sosial. Ragam kepribadian tersebut tidak dapat kita salahkan ketika kita merasa sulit menyesuaikan diri. Bisa jadi justru kurang maksimalnya kita untuk bisa menempatkan diri dengan lingkungan. Keberagaman kepribadian setiap individu tersebut, akan menuntut kita untuk bisa mengkondisikan diri dengan sebaik mungkin, serta bisa menempatkan diri pada posisi yang benar, yang nantinya akan terus berhubungan dengan banyak orang hingga terwujudnya keserasian, ketentraman, dan keharmonisan dalam hubungan tersebut.
Dengan mengetahui berbagai jenis kepribadian, kita dapat berupaya semaksimal mungkin untuk mengetahui setiap ciri-ciri yang ada. Dengan demikian kita akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.
Tidak seorangpun yang mampu mengenali kepribadian yang dimiliki orang lain hingga detail, karena kepribadian yang dimiliki oleh setiap orang adalah beragam dan berkombinasi. Namun demikian ada ciri-ciri yang dominan dan mudah untuk dikenali, seperti kepribadian yang emosional dan arogan, atau kepribadian yang lemah lembut dan sabar. Dengan kata lain sifat ataupun unsur-unsur inilah yang nantinya membentuk pribadi seseorang menjadi dominan dan mudah dikenali secara kasat mata.
B. Manfaat dan Tujuan
1. Dapat memberikan gambaran informasi tentang bagaimana kriteria seseorang yang memiliki kepribadian sensitif
2. Dapat mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menghadapi seseorang dengan kepribadian sensitif, khususnya terhadap peserta didik di sekolah
3. Sebagai mahasiswa program studi bimbingan dan konseling, perlu untuk mengetahui berbagai perbedaan individu dalam hal ini kepribadian yang sensitif
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri seseorang dengan kepribadian sensitif?
2. Upaya apa saja yang perlu diperhatikan oleh guru/ konselor ketika menghadapi peserta didik dengan kepribadian sensitif?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kepribadian Sensitif
1. Pengertian Kepribadian Sensitif
Kepribadian yang sensitif (peka) adalah orang yang mampu mengenali serta menyadari diri sendiri, menyadari orang lain dan lingkungan di sekelilingnya. Seseorang yang berkepribadian sensitif adalah orang yang suka melakukan introspeksi diri, sangat peka terhadap suasana jiwanya dan saat- saatnya sendiri, perasaan dan pikirannya. Tapi juga mudah merasakan suasana jiwa, perasaan dan pikiran orang lain, dan pada waktu yang sama dia bersifat ingin tahu dan sangat tajam mengamati segalanya yang terjadi di dunia sekitarnya (Gregory G. Young, 2009)
2. Perasaan, Emosi, Intuisi, Insting
a. Perasaan
1) Menurut Abu Ahmadi (1983) perasaan ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif.
Menurut Carl Gustav Jung (dalam Alwisol, 2009) perasaan adalah fungsi evaluasi, menerima atau menolak ide dan objek berdasarkan apakah mereka itu membangkitkan perasaan positif atau negatif, memberi pengalaman subyektif manusia seperti; kenikmatan, rasa sakit, marah, takut, sedih, gembira dan cinta.
2) Kartini Kartono (1997) berpendapat bahwa perasaan memiliki kegunaan antara lain: Memberikan pengaruh yang besar sekali kepada setiap perbuatan dan kemauan. Sebab emosi ini memberikan sumbangan positif kepada rasa kebahagiaan, atau justru kebalikannya memberikan sumbangan negatif dan kesenduan di hati. Lagi pula, perasaan- perasaan itu erat terjalin dengan segenap unsur kepribadian, dan memberikan warna tertentu pada stemming atau suasana hati. Karena itu pendidikan perasaan penting sekali bagi perkembangan dan pemerkayaan kepribadian.
b. Emosi
1) Kartini Kartono (1997) berpendapat bahwa emosi adalah getaran jiwa atau keharuan.
2) James-Lange (dalam Alif Mu’arifah, 2009) berpendapat bahwa emosi adalah respon dari tubuh manusia.
Dengan kata lain emosi dapat mengaktifkan dan mengarahkan perilaku dengan cara yang sama dengan motif biologis dan psikologis serta emosi dapat menyertai perilaku termotivasi dan juga menjadi tujuan.
c. Intuisi
Menurut Abu Ahmadi (1983) intuisi adalah melihat dengan jiwa atau melihat sedalam- dalamnya.
d. Insting
1) Menurut Sigmund Freud (dalam Alwisol, 2009) insting adalah perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut pada pemuasan. Misalnya insting lapar, berasal dari kebutuhan tubuh yang kekurangan nutrisi. Adapun insting ini terbagi menjadi dua, yaitu: eros dan thanatos.
2) Kartini Kartono (1997) nafsu merupakan kecenderungan yang kuat, hebat sekali, sehingga bisa mengganggu keseimbangan fisik, nafsu menyingkirkan pertimbangan akal dan peringatan hati nurani, dan menyingkirkan semua bentuk hasrat lainnya. Contoh: nafsu berjudi, nafsu minum-minuman keras, nafsu membunuh, nafsu memiliki, nafsu berkuasa, dan lain- lain.
3. Pembagian Kepribadian Sensitif
Gregory G. Young (2010) berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kepribadian sensitif terdiri dari dua macam:
1. Sensitif yang Mengarah Pada Perkembangan (Positif/ Progres)
• Jujur
• Ramah
• Menghargai perasaan orang lain (empati)
• Rendah hati (kemampuan yang bersifat produktif menjadi terpendam)
• Objektif terhadap kritik
2. Sensitif yang Mengarah Pada (Negatif/ Regres)
• Karena terlampau rendah hati, kemampuan- kemampuan yang produktif pada diri individu menjadi terpendam
• Malu terhadap pujian, sekali pujian membuat merasa melambung
4. Ciri- ciri Kepribadian Sensitif
Menurut Gregory G. Young (2010) ciri- ciri kepribadian sensitif terdiri dari:
a. Selalu membutuhkan waktu untuk sendiri
b. Sangat teliti kadang-kadang sampai pada titik perfeksionis
c. Memiliki kehidupan dan batin yang kompleks
d. Mengalami tingkat kecemasan yang lebih besar
e. Memiliki kesadaran tinggi pada kondisi lingkungan di sekitarnya.
f. Dapat menjadi sangat emosi dan menghindar sesaat untuk mencari ketenangan dan kenyamanan.
g. Sering merasa terdorong untuk mengatur banyak hal termasuk pikiran.
h. Sangat mengapresiasi dan menikmati hal yang sederhana dan bisa dengan mudah emosi ketika melihat kekacauan atau sedang stress.
i. Tidak merasa nyaman ketika banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
j. Memiliki intuisi yang tinggi
k. Bisa dengan mudah terbawa perasaan dan merasa khawatir.
l. Sulit tidur.
m. Kemungkinan memiliki perasaan yang sensitif dalam memandang rasa sakit.
n. Tidak suka keramaian.
o. Sering menghindari tontonan yang berisi kekerasan.
p. Sangat mengapresiasi alam, musik dan seni.
5. Faktor-faktor Penyebab Kepribadian Sensitif
Alexander dalam Umar Tirtarahardja (2005) berpendapat bahwa ada tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian seseorang yakni:
a. Faktor hereditas/ gen / bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor biologis yang diturunkan melalui pewarisan genetik dari orangtua. Pewarisan genetik ini dimulai pada saat terjadinya pembuahan yaitu ketika sel reproduksi perempuan yang disebut ovum dibuahi oleh sel reproduksi laki-laki yang disebut spermatozoan. Hal ini terjadi kira-kira 280 hari sebelum lahir. Dalam masing-masing sel reproduksi terdapat 23 pasang kromosom. Kromosom adalah partikel seperti benang yang masing-masing didalamnya terdapat untaian partikel yang sangat kecil, yang disebut Gen. Gen inilah pembawa ciri bawaan, yang diwariskan orangtua kepada keturunannya (Hurlock:1995)
Dengan kata lain, ketika orangtua memiliki kepribadian yang sensitif sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kepribadian.
b. Faktor Lingkungan
• Keluarga
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang digunakan untuk berhubungan dengan anak-anak. Berkaitan dengan pola asuh ini terdapat tiga macam pola asuh orang tua,yaitu: pola asuh otoriter, permisif, autoritatif.
Keluarga, merupakan pendidik kodrati yang dapat menjadi pusat pertama seorang anak dalam berkembang. Demikian dapat dikatakan bahwa, segala bentuk sikap, prilaku serta pendidikan yang ditunjukan orangtua terhadap anaknya sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadiannya.
• Sekolah
Menurut Umar Tirtarahardja & La Sulo (2005) bahwa pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
Dalam posisi manusia sebagai makhluk serba terhubung, pembentukan pribadi meliputi pengembangan penyesuaian diri terhadap lingkungan, terhadap diri sendiri, dan terhadap Tuhan.
Menurut John Locke dalam Prasetya (1997: 188), berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini sebagai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabularasa) yang belum ada tulisan di atasnya sehingga aliran ini disebut juga dengan nama aliran tabularasa. Menurut teori ini bahwa kepribadian didasarkan pada lingkungan pendidikan yang didapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata-mata bergantung kepada pendidikan.
• Masyarakat
Menurut John Locke dalam Umar Tirtarahardja (2005: 194), bahwa anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.
B. Teori Kepribadian
Beberapa pendapat mengenai kepribadian antara lain:
1. Jung (Carl Gustav Jung)
Kepribadian adalah mencakup keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkah laku, serta kesadaran dan ketidaksadaran.
a. Menurut Jung dalam Sumadi Suryabrata (2008), bahwa sikap jiwa introvert dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutaama tertuju ke dalam pikiran, perasaan serta tindakan- tindakannya terutama ditentukan oleh faktor- faktor subyektif. Penyesuaiannya dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain. Penyesuaian dengan batinnya sendiribaik. Bahaya tipe introvert ini adalah kalau jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh, sehingga orang lepas dari dunia obyektifnya.
b. Menurut Jung dalam Alwisol (2009) terdapat gabungan antara sikap dan fungsi untuk mendeskripsikan tipe kepribadian manusia. Dua diantaranya yaitu;
Introversi-perasaan: orang yang mengalami perasan emosional yang kuat tetapi menyembunyikan perasaan itu. Orang dengan katagori ini memiliki sifat pendiam, kekanak- kanakan, tidak acuh.
Ekstroversi perasaan: orang yang perasaannya mudah berubah begitu situasinya berubah. Emosional dan penuh perasaan tetapi juga senang bergaul dan pamer.
2. Hippocrates dan Gallenus
Pendapat Hippocrates dan Gallenus dalam Sumadi Suryabrata (2008: 12), bahwa sifat- sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat daripada dominannya salah satu cairan badaniah itu oleh Galenus disebut sebagai temperamen. Adapun salah satunya yaitu tipe melanchole (melankolis) dengan ciri- ciri mudah kecewa, daya juang kecil, muram, pesimistis.
3. Aristoteles
Menurut Aristoteles (dalam Dipl, 2000) manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti kemampuan-kemampuan vegetatif; makan, berkembangbiak; kemampuan sensitif: bergerak mengamat- amati, bernafsu dan berperasaan; dan kemampuan intelektif: berkemauan dan berkecerdasan.
Dengan demikian Aristoteles berpendapat bahwa kemampuan sensitif pada manusia terdiri dari;
a. Kemampuan mengamati
b. Kemampuan perasaan
c. Kemampuan bernafsu
Kemampuan Sensitif: 1. Mengamati 2. Bernafsu 3. Berperasaan
Abu Ahmadi (1983) berpendapat bahwa pengamatan ialah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perangsang.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kepribadian sensitif merupakan segala bentuk gejala dan sikap/ perilaku yang ada pada diri individu, cenderung nampak dan dapat diamati, yang erat kaitannya dengan segala aspek emosi dan perasaan seseorang dengan adanya berbagai faktor penyebab hingga muncul dua arah (positif dan negatif) karena adanya faktor kebiasaan.
B. Faktor Penyebab
Faktor penyebab terbentuknya kepribadian sensitif antara lain: faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Gen/ bawaan
2. Faktor Eksternal
Pola asuh orang tua (keluarga)
Lingkungan sekolah
Lingkungan masyarakat
C. Ciri- ciri Kepribadian Sensitif
f. Dapat menjadi sangat emosi dan menghindar sesaat untuk mencari ketenangan dan kenyamanan.
Apabila orang dengan pribadi sensitif ini merasakan ketidaknyamanan dalam hidupnya maka orang sensitif akan menjadi orang yang mudah marah, tidak sabar, emosional, mempunyai hati yang keras, perasaannya kering, keras kepala, mudah meledakkan amarahnya karena hal yang sepele. Sikap kesensitivitasannya muncul tanpa dikehendaki, karena sensitif bersambung dengan aliran emosi yang mengeluarkan cairan saraf yang berada di otak bagian tengah. Lalu manakala otak menangkap pengaruh tertentu, maka pengaruhnya itu berjalan di dalam tubuh melalui aliran emosi dengan cara yang tidak dapat dikendalikan melalui gerakan yang cepat atau melalui perasaan. Dalam realitasnya, sensitif dapat dikategorikan sebagai sebuah ungkapan perasaan. Untuk menghadapi hal itu, kepribadian ini lebih suka menghindar dari orang lain untuk mencari ketenangan dan menstabilkan emosinya karena kepribadian ini termasuk dalam kategori introvert sehingga dia akan lebih nyaman ketika sendiri dibandingkan berhadapan dengan orang lain disaat kegelisahan hatinya.
g. Sering merasa terdorong untuk mengatur banyak hal termasuk pikiran.
Kepribadian sensitif bukan saja pengamat yang tajam tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka dan peka terhadap orang lain, tetapi mereka juga sangat cakap dalam membuat rencana dan mengorganisasi, mengatur, dan mengintegrasikan berbagai unsur dan kesempatan yang ada dalam kekuasaan mereka, dalam lingkungan mereka. Disamping itu mereka juga mampu mengatur pikran mereka. Dengan pengoptimalan pikiran, kita dapat mengendalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang kita inginkan. Dengan pikiran kita dapat mengubah perasaan sedih menjadi perasaan senang, takut menjadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis menjadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Sehingga akan membuahkan hasil-hasil dan tujuan yang ingin mereka capai biasanya tinggi dan mereka kreatif dalam mengejar cita-cita mereka.
h. Sangat mengapresiasi dan menikmati hal yang sederhana dan bisa dengan mudah emosi ketika melihat kekacauan atau sedang stres.
Kepribadian yang peka ini pada umumnya tidak menyukai kemewahan dan keramaian. Sebenarnya dia tidak tertarik pada hal-hal yang seperti itu. Kepribadian ini lebih menyukai dan menikmati hal yang sederhana dalam hidupnya, sederhana tetapi mampu menunjukkan nilai yang baik. Ketika kepribadian ini melihat dan mengalami kekacauan dia akan cenderung emosional, karena biasanya pada saat merespons realita yang tengah dihadapi, pikirannya tidak mengolah kembali fakta-fakta yang terekam di otak, akan tetapi langsung memasukkannya ke dalam “hati” apa adanya. Ia mengolah informasi dengan perasaannya.
i. Tidak merasa nyaman ketika banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
Orang dengan pribadi sensitif adalah pencipta perdamaian, pembuat perdamaian, dan pemelihara perdamaian. Dia menghendaki perdamaian itu bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Dia cinta damai, oleh karena itu dia tidak bisa hidup di tengah-tengah kekacauan dan akan sangat merasa tidak nyaman bila terdapat hal yang tidak dapat dikendalikan dalam hidupnya yang dapat mengusik ketentraman hatinya, karena kepribadian sensitif ini membutuhkan kehidupan yang tentram, aman, dan damai dimanapun mereka berada dan apapun yang dilakukannya.
j. Memiliki intuisi yang tinggi
Seperti kita ketahui semua orang sebetulnya memiliki intuisi tetapi khusus kepribadian ini mempunyai intuisi yang luar biasa tajam di atas kemampuan orang kebanyakan. Mereka demikian peka seperti halnya anak jenius mempunyai kepintaran di atas rata-rata.
k. Bisa dengan mudah terbawa perasaan dan merasa khawatir
Sebagai contoh ketika seseorang dengan kepribadian sensitif melakukan kesalahan, dia akan merasa khawatir ketika ada orang lain yang sempat dikecewakan. Rasa empati yang dimilikinya mengarahkan dia untuk tidak mudah membuat orang lain tersakiti. Dengan demikian dia akan memperlakukan orang lain sama seperti keinginannya diperlakukan oleh orang lain.
l. Sulit tidur
Karena sangat mudah merasa cemas akan sesuatu yang dirasa kurang tepat, hal ini mempengaruhi fikirannya sehingga tidak ada rasa tenang. Fikirannya yang berlebihan ini berpengaruh sampai sulit untuk bisa tidur.
m. Kemungkinan memiliki perasaan yang sensitif dalam memandang rasa sakit.
n. Tidak suka keramaian
Karena kepekaan yang dirasa akan keadaan lingkungan sekitar, seseorang dengan kepribadian sensitif cenderung menyukai sesuatu yang dapat membuat dirinya tenang. Keadaan yang tenang ini diyakininya dapat membuat suasana damai dan tentram. Jauh dari hal-hal yang dapat membuat dia merasa tidak tepat/ sesuai.
o. Sering menghindari tontonan yang berisi kekerasan
Seseorang dengan kepribadian ini sangat mengutamkan perdamaian. Seperti apapuu keadaannya, ia mengusahakan akan mewujudkan suasana yang damai. Maka dari itu, dia akan menghindari segala sesuatu yang bersifat permusuhan, apalagi perkelahian sampai pada kekerasan.
p. Sangat mengapresiasi alam, musik dan seni.
D. Upaya yang Perlu Diperhatikan Ketika Menghadapi Anak yang Sensitif
Kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa anak yang sensitif, antara lain memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Rentan, sering mendramatisir kejadian dan sangat perasa.
2. Mereka sangat sadar dan peka akan kebutuhannya, keinginannya dan harapannya untuk dihargai oleh orang di sekitarnya.
3. Ciri khas anak ini adalah mengeluh, membutuhkan waktu yang panjang untuk mengerjakan satu hal (tidak dapat dipaksa).
4. Anak-anak ini ingin mengetahui bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaannya (menurut versi anak) dan mereka ingin pendidik juga merasakan perasaan yang sama.
Tipe ini sebenarnya hampir mirip dengan tipe pemalu, dan memiliki sifat peka terhadap situasi. Beberapa anak bahkan terlihat seperti orang dewasa. Perasaannya halus dan memiliki sifat mau mengalah. Tetapi cenderung menarik diri dan menjadi rendah diri. Padahal anak seperti ini justru memiliki bakat yang luar biasa dalam menganalisa sesuatu. Menghadapi anak seperti ini harus sabar dan pelan-pelan. Memberinya pengertian dengan cara yang halus akan sangat membantu.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepribadian sensitif merupakan segala bentuk gejala dan sikap/ perilaku yang ada pada diri individu, cenderung nampak dan dapat diamati, yang erat kaitannya dengan segala aspek emosi dan perasaan seseorang dengan adanya berbagai faktor penyebab hingga muncul dua arah (positif dan negatif) karena adanya faktor kebiasaan.
Faktor penyebab terbentuknya kepribadian sensitif antara lain: faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Gen/ bawaan
2. Faktor Eksternal
Pola asuh orang tua (keluarga)
Lingkungan sekolah
Lingkungan masyarakat
B. Saran
Peserta didik dengan tipe ini sebenarnya hampir mirip dengan tipe pemalu, dan memiliki sifat peka terhadap situasi. Beberapa peserta didik bahkan terlihat seperti orang dewasa. Perasaannya halus dan memiliki sifat mau mengalah. Tetapi cenderung menarik diri dan menjadi rendah diri. Padahal peserta didik seperti ini justru memiliki bakat yang luar biasa dalam menganalisa sesuatu. Menghadapi peserta didik seperti ini harus sabar dan pelan-pelan. Memberinya pengertian dengan cara yang halus akan sangat membantu
DAFTAR PUSTAKA
Suryabrata, Sumadi. (1983). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Dipl, Gerungan. (2000). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Kartono, Kartini. (1997). Patologi Sosial 3 Gangguan Gangguan Kejiwaan. Jakarta: CV. Rajawali.
Sobur, Alex. (2009). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Ahmadi, Abu. (1983). Psikologi Umum. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Young, Gregory. (2009). Membaca Kepribadian.
Tirtarahardja, Umar dkk. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

tugas informatika ku hari ini.. Selasa, 22 November 2011
BalasHapus