Langsung ke konten utama

Postingan

Jujur pada Jemari

Berlarilah selagi bisa. Genggamlah ketika waktu memberi aba-aba. Kemudian, buka jemari itu. Pandangi lama-lamat keindahan nan agung tak terdefinisi oleh kata. Tekstur menyoal rasa. Hembuskan nafas dengan teratur agar Apa yang dipandang adalah benar tak terganggu. Tak terjatuh. Tak terjerembab. Tak berceceran. Dengarkan nyanyian merdu yang ia dendangkan; nikmati! Setidaknya itulah keberadaan yang tiada. Ia meminta bukan menyita. Tugas; memberi tak tersiksa 29052014
slamat datang di terminal mencari kendaraan sedia antar slamat datang di tempat peristirahat singgah barang sejenak slamat melanjutkan perjalanan kedamaian ini tak terdefinisi oleh nominal mu berkawan dalu melupa lalu 08052014

Suara

Aku menyimak; ruas-ruas buku catatan terkapar Membuka oleh jemari mu Aku menyimak; dengungan pita suara mu mengibas Aku menyimak; tangan gemerincing mengacak hening Aku menyimak; bicara mu Aku menyimak gelisah mu Aku menyimak mata bersorot Aku menyimak nafas dipendar bingar Aku menyimak prasangka mu Aku menyimak perkara kesal mu Karna kau bersedia disimak hanya untuk satu topik: Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit Duwit 03052014

KAMU

aku menyapa mu malam ini; "Bagaimana kabar?." aku menyebutkan nama mu pada malam ke sekian aku memutar kembali memori pada setiap teguk aku mengaduk larut ceritera bersama secangkir kopi krimer ku aku meletakkan catatan dalam ramuan ini; menyatu 12042014 rev 2804
Aku diajak melihat pagi, siang dan malam secara jujur. Memperhatikan daun-daun yang ditetesi embun setelah matahari menggeser bulan. Ayam yang menggerak-gerakkan pita suaranya. Mematikan lampu teras, dapur dan garasi motor. Menyaksikan perubahan warna langit dari hitam, jingga semburat kemerah-merahan, sampai putih semburat kemuning. Manusia bergerak sesuai kehendaknya, namun ada juga yang terbata-bata bersuara, bicara pun tidak nyaring.

Pengakuan

Bersetapak rinai kala Pagi datang kemudian disergah Meski parau, kau Tetap bersambut hangat Tanpa gusar sedikit pun Itulah kau; yang kian semarak menjadi dalang di panggung mu sendiri karna kau tak pernah mau hirau dengan gemuruh tabuh gong mengakhiri Dihentikan gendang kau masih saja bersimbah kala tersaing tanjidor iya tetap saja; kau begitu aku tau karna itulah kau dengan skenario mu sendiri aku memanggil mu kala itu terbata sengat aku bungkam aku mendadak bersembunyi dalam bisu ku ditundukkan oleh pernyataan kalbu iya; aku mengiyakan lalu tersudut aku tempo itu mangut larut catatan dianyam tak ubahnya berseling warna itulah sebab aku menyudut mencari kata pengganti dari sebuah bagaimana karna masih saja aku enggan bergeming dari tabir ku oh; tentu 21042014